Minggu, 11 Januari 2015

Lucky Slut Bab 2



CHAPTER TWO

            Apa sebenarnya yang diinginkan Lord Moore dariku? Grisell mematut dirinya di depan cermin, memandangi gaun barunya yang lain. Gaun yang diberikan oleh Lord Moore anehnya pas dengan ukuran tubuhnya, namun ia dapat merasakan kalau gaun ini bukanlah gaun baru. Jika Lord Moore tidak menginginkan tubuhnya, lalu apa yang ia inginkan? Grisell tak pernah berpikir akan dibeli atau berbicara dengan bangsawan. Grisell terlalu murahan untuk mendapatkan kehormatan seperti itu, kata Bibi Millicent saat sedang mabuk. Tumbuh tanpa orangtua membuat Grisell haus akan kasih sayang dari seseorang, meski Bibi Millicent telah merawatnya. Bibi Millicent tak sanggup menyekolahkan Grisell atau menyewa guru pribadi untuknya, maka dari itu Grisell akan sangat malu bila ia disuruh menulis atau membaca. Mungkin ia memang bisa membaca—jika kata itu tidak membelit lidahnya—tapi menulis? Ia tidak begitu yakin. Oh, ia pernah diajar membaca oleh kakek tua sewaktu ia masih berumur 10 tahun sampai ia mencapai 12 tahun karena Tuhan telah memanggil sang kakek tua, ia tidak mempunyai teman sejak saat itu. Setelahnya, ia tidak mendapat edukasi apa pun selain membantu Bibinya mencari uang. Menjadi pelacur ternyata merupakan pekerjaan yang pas bagi Grisell, menurut Bibi Millicent. Karena kurangnya kasih sayang dari orangtua, Grisell senang dilimpahi perhatian oleh para pemakai tubuhnya. Tapi sayangnya, hal itu tidak Grisell dapatkan di Cheshire.
            Apa yang akan Lord Moore katakan bila Grisell mengaku bahwa dirinya tak berpendidikan? Grisell sering keluar dari rumah pelacuran saat umurnya masih 14 tahun, saat ia belum dijadikan pelacur, untuk mencari teman. Mulai dari pemilik toko kue yang sudah tua sampai anak bayi milik penjual sayur di pasar. Ia merindukan masa-masa dimana ia masih bisa melakukan itu, meskipun nakal tapi ia menikmatinya. Tetapi pria itu! Pria yang telah merusak otak Bibi Millicent untuk membuatnya menjadi pelacur. Grisell ingin menguburkan diri mengingat pekerjaan yang diberikan Bibinya sebelum menjadi pelacur. Menyenangkan tapi juga sangat berdosa. Ia menipu dan mencuri bersama dengan Bibi Millicent. Namun semuanya telah berlalu. Ia sudah di Cheshire bersama pria konvensional yang kaya raya—pria itu pemilik estat!
            Grisell menggeleng kepala cepat-cepat, berpikir apabila ia memikirkan masa lalu terus menerus akan membuat dirinya tak dapat menjalani kehidupannya kini. Ketukan pintu membuatnya terperanjat di tempatnya berdiri. Ia menoleh ke belakang, melihat pintu kamarnya.
            “Masuklah,” ucapnya lemah. Eunice, pelayan sekaligus pendampingnya, masuk dengan pakaian pelayan yang berwarna hitam. Grisell tak pernah memiliki pelayan sebelumnya, justru ia yang melayani orang lain—meski tidak dengan cara sesopan ini. Eunice bertubuh lebih pendek darinya, ia duga Eunice baru menginjak umur 18 tahun, dan gadis itu memiliki rambut hitam yang disanggul ke dalam sehingga dirinya terlihat bersih dan rapi. Eunice sama membosankannya seperti Lord Moore, cukup membuat Grisell frustrasi mencari kesenangan.
            “Miss, makan malam akan segera dimulai. Lord Moore ingin Anda turun ke bawah menemaninya sekarang,” ucap Eunice dengan suara kecil. Grisell mengangguk tanpa melontarkan kalimat apa pun lalu ia kembali mematut diri di depan cermin. Gaun merah berlengan pendek itu sangat cocok untuknya. Ditambah dengan hiasan-hiasan berwarna hitam di sepanjang bagian leher dan ukiran rumit di roknya yang besar yang berwarna hitam juga membuat gaunnya semakin indah. Ia sudah siap bertemu dengan… Grisell ragu. Siapa pria itu baginya? Majikan? Tetapi Grisell tak diperlakukan seperti pelayan. Teman? Ia bahkan belum tahu berapa usia Lord Moore!
            Sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Ia mengangkat roknya dengan kedua tangan—sesuatu yang dianggap vulgar bagi orang Inggris—lalu berjalan keluar dari kamar. Eunice melihat itu tak berani berkomentar namun tetap mengikuti Grisell dari belakang. Pendamping harus ikut bersamanya hampir setiap saat, terutama saat pria sedang melakukan pendekatan dengannya. Grisell tidak tahu dimana ruang makan tepatnya, Moore House bukanlah rumah! Moore House lebih tepatnya seperti hotel yang memiliki banyak pintu di sana-sini dan ruangan. Sederetan jendela tertutup tirai beledu merah sepanjang lorong menuju tangga ke bawah. Sementara di sisi yang lain, terdapat cahaya lilin-lilin besar yang menempel di dinding sehingga lorong itu sangat terang.
            Saat Grisell sudah menuruni anak tangga, ia melihat beberapa orang berbaris di hadapannya mengenakan pakaian pelayan yang sama seperti Eunice pakai. Wanita itu terkejut melihat mereka berdiri sambil menatapnya dengan senyum ramah. Grisell tak pernah bertemu dengan begitu banyak pelayan dan tak berniat menghafal semua nama pelayan itu. Cornelius berdiri paling dekat dengannya memberi senyum bersahabat sehingga Grisell ikut tersenyum, merasa senang. Bisakah mereka berteman? Grisell sangat ingin memiliki banyak teman—dulu sebelum ia menjadi pelacur—terutama dengan orang yang lebih tua dengannya. Ia memikirkan, apakah akan ada orang tua yang sama seperti kakek tua yang dulu mengajarnya membaca? Ia tidak yakin, namun patut dicaritahu.
            Cornelius menarik perhatiannya saat pria setengah baya itu memperkenalkan para pelayan rumah yang memiliki tugas masing-masing. Grisell tidak tahu harus bereaksi seperti apa selain ikut melangkah dan tersenyum pada pelayan yang diperkenalkan. Kebanyakan pelayan wanita bekerja di belakang dapur, dan yang lainnya akan membersihkan bagian-bagian rumah. Sementara Cornelius, kepala pelayan rumah, akan memeriksa seluruh urusan rumah. Grisell tak tahu ada berapa pelayan di rumah ini dan ingin menangis karena ia tak tahu menghitung lebih dari 100! Sialan, mengapa ia harus memiliki masa kecil yang buruk? Cornelius akhirnya menggiring Grisell menuju ruang makan yang harus melewati tiga ruangan—ruang tamu, ruang bermain untuk orang dewasa, ruang musik—kemudian Grisell menemukan Lord Moore telah berada di ruang makan. Ruangan itu sangat luas dan tinggi dengan meja panjang dan banyak kursi di sisinya dan dua ujungnya. Beberapa lilin gantung berada di langit-langit ruangan sehingga ruang makan sangat terang. Di satu sisi ruangan terdapat sederet jendela dan pintu besar yang langsung menghubungkan pemandangan taman indah yang ditumbuhi pohon-pohon lebat. Sementara sisi yang berlawanan juga terdapat sederet jendela dan pintu besar, namun dengan taman yang lebih memperlihatkan kecantikan bunga-bunga, semak-semak yang terpangkas rapi dan pepohonan sebagai latar belakangnya.
            Lord Moore cepat-cepat berdiri dari kursinya saat ia melihat wanita yang ia harapkan muncul. Ia keluar dari balik meja lalu menyambut Grisell dengan gaya yang menurut Grisell sangat membosankan. Mengapa ada orang yang bertahan bersikap begitu konvensional sepertinya? Lord Moore menarik tangan kanannya lalu mencium tangannya yang dibalut sarung tangan putih. Setelah mempermalukan dirinya di depan Grisell, Lord Moore tersenyum.
            “Selamat malam, Miss Parnell. Maukah kau bergabung denganku menikmati makan malam yang lezat?” Demi tanaman Cheshire! Mengapa Lord Moore tak bisa menyebutkan nama depannya saja dan mengajaknya dengan gaya santai? Grisell melipat kedua tangannya di depan dada.
            “Bagaimana jika aku menolaknya?” Tanya Grisell membuat semua orang di ruang makan—temasuk pelayan yang baru saja berjalan masuk ruang makan dan tersentak sesaat—menarik nafas tajam, terkejut akan sikap tak sopan Grisell. Lord Moore tak pernah diperlakukan begitu rendah oleh siapa pun. Semua masyarakat Cheshire tahu bahwa Lord Moore adalah orang penting dan dihormati. Tetapi masyarakat Cheshire tidak tahu bahwa Grisell adalah seorang pelacur yang tak tahu bagaimana bertingkah laku seperti seorang Lady.
            “Aku khawatir Anda tidak bisa menolaknya, Miss Parnell. Para pelayan sudah bersusah payah membuatkan makanan lezat bagi kita malam ini, tidakkah seharusnya kita menghargainya? Mari, Miss Parnell, kuantar kau ke kursimu,” ucap Lord Moore mengambil alih segalanya. Lord Moore menyelipkan lengannya ke lengan Grisell lalu menarik paksa wanita itu agar berjalan bersamanya. Pasrah, Grisell mengikuti apa yang diinginkan pria itu. Ia memutar bola mata saat Lord Moore menarik kursi untuknya lalu ia duduk di sana. Kedua tangannya terlipat di atas meja makan sambil mengerucutkan bibirnya ke samping. Dua bola mata biru itu melihat ke sekeliling, berpikir makanan apa yang disajikan untuk mereka.
            Lord Moore berusaha sekeras mungkin agar tak menggeleng kepala dan membentak siapa pun malam itu. Demi Tuhan, wanita itu harus segera bertemu dengan pengajar pribadinya. Seorang wanita Inggris tidak boleh duduk membungkuk, melipat kedua tangan di atas meja dan menggerak-gerakkan kedua kakinya di bawah meja! Lord Moore duduk di ujung meja, dekat dengan tempat Grisell. Cornelius datang menghampiri Grisell lalu ia mengambil sebuah serbet yang terlipat cantik di depan wanita itu lalu ia mengibaskannya agar berbentuk persegi.
            “Permisi, Miss Parnell. Aku takut bila makanan akan menodai gaun Anda, bukankah langkah yang bijak bila aku menempatkan serbet ini di atas pangkuanmu?” Tanya Cornelius mengejutkan Grisell. Kemudian wanita itu menegakkan punggungnya dan mengangkat kedua tangannya agar Cornelius bebas menempatkan serbet itu ke atas pangkuannya. Lord Moore mendesah dalam hati, bingung apa yang harus ia lakukan pada wanita ini.
            Season akan segera dimulai 1 bulan lagi dan ia harus memperkenalkan Grisell pada para tamunya. Lord Moore dapat melihat bagaimana Cornelius terhibur akan kepolosan Grisell terhadap tata krama Inggris, begitu juga dengannya. Tapi diselingi dengan rasa jengkel. Jika saja Ayahnya tak meminta permintaan itu agar kematiannya tenang, Lord Moore tak akan melakukannya. Dan Tuhan tahu, Justin tak menginginkan Grisell dalam cara apa pun. Wanita itu bukan gambaran calon istri masa depannya. Henrietta pasti tidak akan percaya Justin akan menjalin hubungan dengan Grisell. Hanya saja, Justin tidak tahu masa lalu Grisell dan bagaimana Grisell berusaha membuat kehidupannya menjadi lebih baik.
            Setelah dua tepukan tangan dari Cornelius, para pelayan muncul dari pintu yang menghubungkan dengan dapur. Aroma makanan lezat melingkupi ruangan hingga Grisell hampir meneteskan air liur karena lapar. Ia melihat para pelayan mendekati meja lalu menaruh makanan itu di atasnya. Mata Grisell membulat saat ia melihat banyaknya makanan yang memenuhi meja, terutama betapa asingnya makanan-makanan itu untuknya. Kedua tangannya tergantung di sisi tubuhnya dengan mata memandang polos makanan yang tersaji di depannya. Justin mendapati ekspresi itu menyenangkan. Meski tidak tahu tata krama, Grisell memiliki kepolosan langka yang tak pernah Justin temui. Ketidaktahuannya terhadap kehidupan barunya mungkin akan memberi bumbu dalam hidup Justin.
            Setelah para pelayan selesai menaruh makan malam—yang biasanya diawali dengan makanan pembuka tetapi kali ini tidak—Grisell melihat banyaknya jenis garpu di sebelah kirinya dan pisau di sebelah kanannya, dan disusul dengan sendok dalam berbagai jenis di sebelah pisaunya. Tidak ada pilihan lain selain menggunakan tangan agar ia tidak bingung harus memakai yang mana. Justin sudah mengambil makanannya dan menikmati daging di atas piring porselennya. Ia menatap bingung Grisell yang menunduk melihat garpu dan pisau di hadapannya. Sesekali Grisell mengangkat pisau lalu menaruhnya kembali. Kerutan di kening wanita itu entah mengapa membuat Justin merasa senang. Oh, semuanya baru jika itu berhubungan dengan Grisell.
            “Apa kau kesulitan menggunakan alat makanmu, Miss Parnell?” Tanya Justin.
            “Apa bedanya sendok yang ini dengan sendok yang ini?” Tanya Grisell yang memperlihatkan dua sendok yang berukuran besar dan kecil. “Maksudku, bukankah keduanya memiliki fungsi yang sama?”
            “Miss Parnell, sendok yang berukuran lebih besar sering digunakan untuk menikmati sup sementara sendok yang lebih kecil lebih sering digunakan untuk memakan puding,” jelas Justin. Kedua alis Grisell terangkat lalu ia mengedik bahu.
            “Aku akan memakai sendok yang lebih besar kalau begitu,” ucapnya lebih kepada diri sendiri. Grisell mengambil sayur dan daging ke atas piring porselennya lalu melirik makanan Justin. “Tidakkah selaras bila kau memakan daging dan sayur secara bersamaan?”
            “Oh, tentu, Miss Parnell. Tapi aku tidak melakukan itu,” Justin menjawab, kemudian pria itu mengambil alih topik pembicaraan dan mengabaikan fakta bahwa Grisell menggunkan pisau yang salah untuk memotong dagingnya dan garpu yang salah untuk memakan sayurnya. “Apakah kau merasa nyaman berada di rumah ini?”
            “My Lord, sungguh, aku tak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku. Setelah selama ini aku berada dalam ruangan pengap di London, akhirnya aku bisa menarik udara segar sepuasnya. Meski aku bingung mengapa rumahmu begitu besar dan kau tinggal sendirian,”
            “Aku tidak tinggal sendirian, Miss Parnell. Ketiga adik perempuanku sedang pergi berlibur di London sampai season dimulai. Saat ini kau sedang mengenakan gaun adik terakhirku yang kebetulan ukuran tubuh kalian sama,” ucap Justin menikmati percakapan ini. Grisell mengangguk-angguk tertarik. Bibirnya yang berwarna merah dan lembap itu entah mengapa berhasil menyulut hasrat Justin untuk menikmatinya. Oh, apa yang terjadi padanya? Bahkan Henrietta pun tak pernah memberikan perasaan menginginkan seperti ini. Hasrat yang sudah lama ia pendam kembali muncul. Ia sudah berubah! Ia bukan pria yang sama lagi semenjak Ibunya meninggal 4 tahun yang lalu.
            “Kau memiliki tiga adik perempuan? Siapa saja nama mereka?”
            “Mildred, Bridget, dan Hope. Mildred berumur 26 tahun dan sudah menikah. Bridget berumur 22 dan Hope berumur 20 tahun, mereka berdua belum menikah. Bagaimana denganmu? Apakah kau memiliki saudara selain Bibimu?” Tanya Justin selesai dengan makanannya. Ia bahkan hanya memakan dua asparagus setelah selesai memakan dagingnya. Mengapa pria itu bisa berotot sementara ia makan sebanyak porsi perempuan? Grisell berpikir. Tapi sayangnya, bukan karena alasan itu, Justin menyelesaikan makanannya. Ia lebih tertarik mengobrol sambil memerhatikan bagaimana wanita itu menikmati makanan yang ada di piringnya. Grisell menyandarkan tubuh di kursi tingginya lalu ia mengedik bahu.
            “Kurasa aku tak punya. Hanya Bibi Millicent yang kumiliki,” ucap Grisell memain-mainkan makanannya dengan garpu, lalu ia mengambil air anggur untuk ia nikmati. Justin bahkan tidak menyadari bahwa wanita itu tidak bersikap seperti yang ia inginkan, namun ia mendapati wanita itu tampak mengenang masa lalunya. Cornelius yang berdiri di sudut ruangan mendengar percakapan itu semakin intim. Dengan segera ia menyuruh para pelayan keluar dari ruang makan untuk memberi privasi pada kedua majikannya. Cornelius sudah lama mengharapkan seseorang yang menyenangkan seperti Grisell—bahkan sebelum Grisell mencoba. Grisell bersikap apa adanya dan tidak palsu, serta kepolosannya begitu tampak hingga Cornelius teringat akan keponakannya di kota.
            Justin menyesap anggurnya lalu ia bertanya. “Dimana Ibumu?” Pertanyaan itu keluar begitu mudahnya dari bibir tipis Justin tanpa berpikir bagaimana pertanyaan itu sangat menyengat perasaan Grisell. Sebelum menjawab, Grisell kembali meminum air anggurnya lalu menoleh menatap Justin yang mengelap bibirnya dengan serbet.
            “Aku lebih memilih kita tidak membicarakannya,” ucap Grisell mengedipkan mata beberapa kali. Ibunya meninggal setelah 2 minggu meninggalkan Grisell di desa bersama Bibi Millicent. Sebuah pukulan keras bagi Grisell begitu mengetahui Ibunya meninggal karena penyakit paru-paru. Justin mengangguk mengerti. “Bagaimana dengan Ibumu?”
            “Ibuku sudah meninggal 4 tahun yang lalu setelahnya Ayahku meninggal 2 tahun kemudian. Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat Ibumu meninggal, aku dapat merasakannya juga. Dan Ayahku-lah yang membawaku padamu, suatu misteri mengapa ia menginginkanmu bersamaku.”
            “Kau tidak mengerti,” tukas Grisell cepat. Keduanya tidak menyadari bagaimana keakraban mulai tumbuh dalam percakapan mereka tanpa harus mengatakan gelar bodoh itu. “Mengapa Ayahmu menginginkanku bersamamu?”
            “Di sela-sela nafasnya yang semakin sulit ia hirup, ia menyebutkan namamu. Mungkin belum saatnya kau tahu tujuanku membawamu ke sini bersamaku. Dan sudah kubilang, suatu misteri mengapa ia menginginkanmu bersamaku.” Justin menarik nafasnya dalam-dalam. “Dan aku sangat ingin mencaritahu misteri itu,”
            “Kau ingin mencaritahu misteri mengapa Ayahmu menginginkanku bersamamu? Kalau begitu, aku ikut. Aku juga ingin tahu apa tujuanku di sini bersamamu,” ucap Grisell bersemangat. Dua mata birunya berbinar-binar menatap Justin. Tatapannya itu selalu mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka yang bodoh itu. Grisell siap basah kapan pun untuknya dan dalam posisi apa pun. Pikiran kotor wanita itu sangat memengaruhinya sekarang. Ia tahu, reputasinya sebagai seorang earl akan segera hancur bila masyarakat tahu bahwa Grisell adalah mantan seorang pelacur. Kasta yang begitu berbeda dan tak bisa diterima oleh masyarakat. Namun siapalah mereka menghakimi Justin? Gagasan menjadikan Grisell simpanannya sudah pernah terlintas di pikiran Justin sebagai pilihan pertama. Namun ia bukan jenis pria seperti itu—tidak lagi.
            Ia bukan pria berpikiran kotor seperti bertahun-tahun lalu. Sejak kematian Ibunya diumur Justin yang ke-26, Justin tidak pernah hidup kotor lagi. Lapisan luar Justin memang sangat sempurna. Keahliannya dalam bersandiwara sangat patut dibawa ke panggung hiburan. Justin Moore sangat terkenal akan kehebatannya memperlakukan masyarakat, bagaimana ia bersosialisasi dan berbaur. Senyumannya yang memikat tak luput dari wajah tampannya. Ia pria yang baik, ucap salah satu nenek yang ditolong Justin saat ia kesulitan berjalan ke rumahnya. Tidak akan ada yang percaya bila ada seseorang yang mengatakan bahwa Justin pria brengsek.       Namun tak pernah ada yang bisa menebak bagaimana Justin menjalani kehidupan kotor dan bersih di hari yang sama. Pria itu menjalin hubungan skandal dengan wanita yang telah bersuami padahal ia memiliki kekasih yang lebih muda darinya. Ia juga meminum minuman keras di pondok tanahnya agar tak ketahuan oleh siapa pun, dan kecanduannya berhubungan intim dengan wanita—siapa pun akan diserangnya selama wanita itu menutup mulut—benar-benar merusak dirinya. Kebanyakkan wanita bersuami karena mereka berdua tentu tidak ingin mengambil risiko reputasi mereka hancur bila salah satunya membuka mulut—dan Justin bukanlah orang yang cukup bodoh untuk merusak reputasinya sendiri. Namun tidak lagi. Tidak ada Justin yang lama. Ia sudah sepenuhnya hidup bersih dari skandal dan kecanduannya berhubungan intim.
            Kematian Ibunya memberi dampak besar bagi kehidupan Justin. Ia tidak lagi diberi apresiasi oleh wanita yang selalu ia sayangi. Dan tidak ada lagi yang mengurus ketiga adiknya yang masih muda—dan saat itu Mildred belum menikah—terutama karena Justin dan Ayahnya tak mahir dalam masalah fashion wanita. Belum lagi kebutuhan wanita yang ternyata luar biasa banyak. Terlarut dalam pikirannya, Justin menggeleng kepala agar segera sadar. Sampai dimana tadi? Ah, tujuan Justin membawa Grisell padanya.
            “Aku tahu tujuanku membawamu ke sini. Tapi aku masih belum tahu alasan tepatnya,” ucap Justin menjelaskan. Tak terasa Grisell sudah selesai memakan makan malamnya, ia juga bersandar di kursi seperti yang Justin lakukan—dan tidak boleh dilakukan oleh wanita. Sebagai wanita Inggris, ia harus duduk tegak, peralatan makannya tak boleh bersentuhan dengan piring sehingga takkan menyebabkan keributan dan mulutnya tak boleh terbuka saat sedang mengunyah makanan. Sayangnya, Grisell tak tahu peraturan itu untuk sekarang. Belum.
            “Ya?  Kalau begitu beritahu aku,”
            “Sudah kukatakan, Miss Parnell, belum saatnya kau tahu tujuanmu kubawa ke rumahku. Mungkin sebentar lagi, begitu kau sudah siap menjadi seorang wanita terhormat,” ucapnya memberi senyum memikat. “Nah, apa kau sudah selesai?”
            “Jika aku berani mengambil satu sendok lagi, aku bisa meledak,” gerutu Grisell memutar bola mata. “Apa yang akan kita lakukan setelah ini?” Tanya Grisell mengangkat punggungnya dari sandaran. Justin memandang Grisell bingung. Apa yang akan kita lakukan? Tidak ada. Grisell hanya perlu beristirahat maksimal agar besok ia siap bertemu dengan pengajar pribadinya. Sementara Justin akan keluar rumah sebentar untuk memeriksa Mr. Cuthbert yang tampaknya sedang tidak dalam keadaan sehat. Sudah menjadi keharusan bagi Justin mengunjungi penyewa tanahnya yang sedang sakit—terutama untuk benar-benar tidak memberi celah bagi masa lalunya terendus.
            2 tahun terakhir setelah kematian Ayahnya, banyak mantan simpanannya yang menginginkan hubungan mereka dibangun kembali. Jusin tentu harus menolaknya demi mendiang Ibunya dan kelangsungan hidup adik-adiknya. Ia tidak ingin menjadi contoh yang buruk bagi adik-adiknya, terutama Hope. Justin menghela nafas panjang lalu ia menggeleng kepala pada Grisell.
            “Tidak ada,” ucapnya pelan. Mata Grisell membulat tak percaya.
            “Tidak ada? Lalu apa yang akan kulakukan? Oh, My Lord, bukankah menyenangkan bila kita bisa berjalan-jalan sebentar keluar taman sementara kau mendiktekanku bagaimana menjadi wanita terhormat?”
            “Bukan pekerjaanku memberitahu bagaimana prilaku wanita terhormat, aku sudah menyiapkan orangnya untukmu,” ucap Justin menatap tajam dua mata biru Grisell. “Tidak ada, Miss Parnell.”
            “Kau sudah tidak memberitahuku apa tujuanmu membawaku ke sini dan kau menolak ajakkanku untuk pergi berjalan-jalan sebentar di taman. Apakah permintaanku begitu sulit sehingga kau menolaknya?” Tanya Grisell tampak murung. Bibir mungilnya cemberut basah sampai Justin harus mengedipkan mata berkali-kali agar kewarasannya masih mengingatkan bahwa ia pria terhormat. Kedua alis Grisell saling bertautan dan matanya melihat ke bawah, tanda ia benar-benar kecewa. Andai saja Grisell tak memberikan wajah seperti itu, pasti Justin dari tadi telah pergi ke rumah Mr. Cuthbert.
            “Baiklah, kita pergi ke taman,” tukas Justin buru-buru sebelum dua mata biru itu mengeluarkan air mata. Grisell mendongak dengan sebuah senyuman riang sehingga Justin ikut tersenyum. Grisell yakin, kali ini ia akan berhasil menggoda dan bahkan mencium seorang Lord Moore di taman! Tipu muslihatnya sudah termakan oleh Lord Moore, dan tinggal sebuah kecupan di bibirnya untuk membuktikan Lord Moore adalah pria sejati.
            “Bukankah kau memang pria berhati malaikat?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar