Kamis, 09 April 2015

Lucky Bastard Sinopsis


Sinopsis:

 Tampan? Ya. Kaya? Sudah pasti. Perayu ulung? Tidak bisa lagi terhitung berapa banyak wanita yang telah termakan karena rayuan racunnya. Lord Myhill, pria itu memesona dan bisa dikatakan, pria yang paling diinginkan di seluruh London. Lord Myhill bisa dengan mudah mendapatkan wanita hanya dengan petikan jari. Tapi tidak pernah ada sekalipun terlintas di otaknya untuk mempunyai hubungan selibat dengan wanita. Dia dikenal sebagai pria yang jatuh cinta pada setiap wanita yang ditiduri.
            Tapi bagaimana jika Lord Myhill yang kali ini sangat menginginkan wanita? Bridget Moore, anak ketiga dari keluarga Moore, tampaknya tidak bisa menoleransi Lord Myhill yang pernah menghinanya dan keluarganya karena sebuah insiden. Dia akan selalu membenci pria itu dan seterusnya. Karena permintaan kakak iparnya, dia terjebak dengan pria itu selama satu malam di sebuah penginapan kecil. Dan sejak saat itu semuanya tak sama lagi.


Prolog     Bab 6     Bab 12
Bab 1      Bab 7     Bab 13
Bab 2      Bab 8     Bab 14
Bab 3      Bab 9     Bab 15
Bab 4      Bab 10   Bab 16
Bab 5      Bab 11   Epilog

Rabu, 08 April 2015

Lucky Slut Bab 15

CHAPTER FIFTEEN

             Semua orang terlalu menikmati waktunya. Mildred dan Benjamin sedang berbicara dengan salah satu penyewa estat keluarga Moore. Bridget sedang membacakan cerita dongeng pada anak berumur 3 tahun yang duduk di atas pangkuannya, di perpustakaan. Hope sedang sibuk-sibuknya mencari Mr. Phee yang barusan ia lihat sempat melewati ruang dansa, tapi sekarang kucing itu sudah lepas dari pandangannya. Dan Lord Moore baru saja selesai berbicara dengan Mr. Burton, salah satu pengacara terkenal di London, di dalam kantor kerjanya selama beberapa menit mengenai usaha Lord Moore di Bristol. Terakhir Lord Moore melihat Grisell sedang duduk di sebelah para wanita lajang, di pinggir tembok. Dan sepertinya ia harus membawa Grisell kembali ke kamar karena ia melihat keletihan di mata wanita itu.
            Mr. Burton sudah berbaur dengan para tamu sementara Lord Moore berjalan menuju tempat Grisell duduk. Matanya tidak mendapati wanita itu di sana. Mungkinkah ia pergi ke toilet atau keluar rumah untuk mencari udara segar? Ia mendekati tempat itu, kemudian memalingkan pandangannya pada para pedansa, tetapi Grisell tidak ada di antara mereka. Cravat abu-abu yang dikenakan Lord Moore terasa mencekik. Pria itu melonggarkan cravat-nya lalu mendekati salah satu wanita yang duduk di dekat kursi yang Grisell duduki. Menyadari dirinya diperhatikan oleh seseorang di belakang, wanita berambut hitam dikepang rumit itu membalikkan tubuhnya. Ia terkejut mendapati Lord Moore berdiri di belakangnya dan dengan segera ia berdiri menghadap Lord Moore. Pria itu membungkuk memberi hormat.
            “Selamat malam, Miss Loutin,” sapa Lord Moore bersikap tenang. “Apa kau melihat Miss Parnell?”
            Miss Loutin melihat kursi di sampingnya, tapi tidak ada Grisell di sana. “Terakhir kulihat ia berdansa dengan salah satu pria. Tapi setelah itu aku tidak melihatnya,”
            “Mohon maaf atas kelancanganku, Miss Loutin, tapi apakah kau kenal dengan pria itu? Atau setidaknya tahu siapa nama pria itu?” tanya Lord Moore mulai kedengaran cemas. Rahang pria itu menegang karena gugup akan jawaban yang akan diterimanya. Bagaimana jika pria itu adalah Lord Clopton? Meski Lord Moore ragu, karena pria itu sedang disibukkan dengan permainan kartu di ruang bermain.
            “Aku tidak tahu, My Lord. Tapi pria itu tinggi dan kira-kira ia berumur 40-an,” ucap Miss Loutin terang-terangan. Lord Moore tidak tahu apa dia harus berteriak sekarang, meninju seseorang atau menampar satu per satu pelayannya. Terlebih lagi Eunice. Seharusnya Eunice bersama dengan Grisell!
            “Terima kasih, Miss Loutin. Kau sangat membantu.” Lord Moore membungkuk, mengambil tangan kanan wanita itu lalu mengecup punggung tangannya yang terbalut sarung tangan. Pria itu dengan segera berjalan keluar dari ruang dansa ke lantai atas. Sebelum ia menyimpulkan hal yang mustahil terjadi pada Grisell, ia harus memastikan bahwa ia telah mencari wanita itu dimana-mana tempat. Lord Moore berjalan cepat, maskulin dan anggun seperti bangsawan lainnya. Ia mencari Grisell di kamarnya sendiri, tapi wanita itu tidak ada. Kakinya beralih ke kamar Grisell, tapi yang ia temukan hanyalah Mr. Phee yang sedang mencakar-cakar sprei tempat tidur Grisell. Saat Mr. Phee melihat Lord Moore, kucing itu segera pergi menuju jendela, menyudut di sana dan mengeong agar pria itu segera pergi dari kamar Grisell. Yah, Mr. Phee sedang melakukan balas dendam pada wanita itu. Tapi sepertinya kedatangan Lord Moore menghambatnya.
            Lord Moore menutup pintu kamar Grisell kemudian membawa dirinya turun kembali ke lantai bawah. Ia menemukan Mildred sedang sibuk berbicara dengan Lord Clopton. Sial! Lord Moore tidak melihat tanda-tanda keberadaan Henrietta juga. Apakah ini hanyalah sebuah kebetulan atau memang sudah direncanakan? Lord Moore tidak tahu, tapi ia ingin sekali tahu dimana keberadaan tunangannya. Dan mungkin jika dalam menit-menit berikutnya, kesabarannya yang selama ini selalu menjadi kekuatannya akan hilang. Lord Moore tidak ingin bertanya dimana Grisell pada Mildred, wanita itu bisa panic dan membuat keributan di sini. Jadi, Lord Moore pergi menuju perpustakaan, ruang musik dan ruang duduk. Tapi dari tiga tempat itu, Lord Moore tidak mendapatkan Grisell. Pria itu akhirnya harus menyuruh kepala pelayannya. Ia berjalan menuju dapur, melewati beberapa orang yang bertanya-tanya ada apa dengannya, tapi ia tidak menjawab sama sekali. Itu membuat beberapa tamu bingung karena pria itu terkenal akan keramahannya.
             Lord Moore melihat sosok tua Cornelius sedang berbincang-bincang dengan Millicent di mulut pintu yang menghubungkan ruang makan dengan dapur. Mereka kelihatan saling jatuh cinta satu sama lain, tapi sekarang Lord Moore sedang tidak bisa mengurusi percintaan mereka. Menyadari kedatangan tuannya, Cornelius segera permisi dari hadapan Millicent, kemudian ia mendatangi Lord Moore yang berjalan padanya.
            Jantung Cornelius berdetak kencang seolah-olah jantung itu akan berhenti dalam beberapa detik ke depan. Tuannya sedang berada dalam suasana hati yang buruk dan ia mulai mengingat-ingat apa yang ia perbuat selama season berlangsung. Ia pikir semuanya baik-baik saja, tidak ada kesalahan apa pun. Tapi ada yang hilang. Biasanya Lord Moore akan pergi kemana pun bersama dengan tunangannya. Dan menurut penglihatan Cornelius yang masih bagus, Grisell tidak mengaitkan lengannya di lengan Lord Moore. Terakhir kali Cornelius melihat Grisell adalah saat wanita itu sedang duduk di pinggir tembok bersama para wanita lajang. Mungkin wanita itu sedang pergi ke toilet. Cornelius yakin Lord Moore mendatanginya karena ada sesuatu yang salah.
            “My Lord—“
            “Apa kau melihat Grisell?” Tanya Lord Moore kelihatan tenang, suaranya terjaga dan tidak ada tanda-tanda pria itu akan marah. Tapi Tuhan tahu, Lord Moore adalah pria sabar. Dan terakhir kali Cornelius melihat Lord Moore marah adalah saat pria itu melihat Grisell jatuh dari kuda dan memang wanita itu terluka di bagian pinggang kirinya. Dan dari penelitian Cornelius selama kedatangan Grisell ke Moore House, hampir setiap hal yang menyangkut Griselll membuat seluruh indera Lord Moore sensitif dua kali lipat.
            “Aku tidak melihatnya, My Lord. Terakhir aku melihatnya sedang duduk bersama dengan para lajang,” ucap Cornelius sebisa mungkin bersikap setenang Lord Moore. Pria itu berjalan semakin dekat pada Cornelius, kemudian satu tangannya menyentuh pundak kiri Cornelius.
            “Aku ingin kau dengar perkataanku sebaik-baiknya,” ucap Lord Moore. Cornelius mengangguk patuh. “Aku ingin kau tetap membuat season ini berlangsung dengan baik. Suruh para bawahanmu mencari Grisell di daerah Welshing Park. Dan kau, panggil seluruh anggota keluargaku termasuk Lord Myhill. Setelah itu kau cari Grisell di setiap tempat di Moore House. Apa aku sudah jelas?”
            “Ya, My Lord,”
            “Sekarang.”

***

            Grisell berusaha meyakinkan dirinya sedang berada dalam mimpi. Tapi keberadaan pria itu terlalu nyata baginya. Ia tidak bisa berpura-pura. Pria itu duduk berhadapan dengannya, duduk dengan kaki diselonjorkan dan ia bersandar di kursi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tangan Grisell diikat menjadi satu di belakang punggungnya, sebuah kain diselipkan dimulutnya dan diikat, begitu juga dengan kakinya. Grisell tidak tahu apa yang bisa lebih buruk dari ini, namun ia ingin pria ini tahu bahwa Grisell sangat membencinya. Pria itu membuka sebuah pintu kecil rahasia di dekat kepalanya, yang ternyata itu adalah tempat penyimpanan anggur sekaligus gelasnya. Pria itu menuangkan setengah gelas anggur kemudian menarik kakinya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Grisell.
            Gerakannya begitu pelan saat jari-jari itu menyentuh kain yang terselip di mulut Grisell, namun kain itu ditarik ke bawah, keluar dari mulutnya. Seulas senyum kecil menghias wajahnya yang bersih, kemudian pria itu mendekatkan ujung gelas ke mulut Grisell.
            “Minumlah, Manis.” Tapi Grisell membuang wajahnya dari pria itu. Senyum itu hilang seketika. Dua alis pria itu bertaut dan dengan segera pria itu menenggak anggur itu. “Kau tidak pernah menolakku,” katanya setelah minuman itu habis.
            “Aku tidak akan pernah menolakmu bila kau kembali padaku,”
            “Tapi aku di sini, kembali padamu, Manis. Apa yang salah?” Tanya pria itu dengan suara putus asa. Pria itu mengangkat satu tangan yang lain, mengelus pipi halus Grisell.
            “Kau terlambat, Nathan,” bisik Grisell. Air matanya kembali berkumpul. “Aku tidak tahu siapa kau, Nathan. Atau bahkan, apakah Nathaniel nama aslimu?”
            “Itu namaku saat bersamamu. Aku harus menutupi identitas diriku saat itu karena aku adalah buronan dari Irlandia. Tapi aku Nathan saat bersamamu. Percayalah, kau tahu aku, Cintaku,” ucap pria itu. Wanita itu memaki di sela-sela giginya. Grisell menarik nafas dalam-dalam, berusaha agar air matanya tak menetes. Ia mengerjap-kerjapkan matanya beberapa kali lalu menghela nafas dari hidungnya. Nathan menarik dirinya dari Grisell kemudian menaruh kembali gelas itu ke dalam kompartemen.  Bagaimana mungkin Grisell tahu tentang pria itu sementara ia tidak tahu tenyata selama ini Nathaniel adalah seorang buronan dari Irlandia? Dari penampilan pria itu sekarang, sudah jelas Nathaniel telah menjadi pria sukses.
            Tidak pernah sedetikpun Grisell mengira pria itu akan datang kembali sejak Grisell menginjakkan kakinya di Moore House. Lord Moore telah membuat Grisell bangun dari omong kosong itu dan wanita itu sekarang telah benar-benar hidup. Tapi mengapa di saat Grisell telah mencintai orang lain, Nathaniel datang menghancurkannya? Apakah Grisell memang tidak layak mendapat kebahagiaan karena selama ini ia adalah orang yang buruk? Lamunan Grisell buyar begitu pria itu menarik dagunya. Wajah mereka begitu dekat. Dia memang Nathaniel Jacoby yang Grisell kenal. Matanya berwarna hitam. Grisell bahkan baru menyadarinya sekarang. Pria itu memiliki warna mata hitam pekat seperti kopi hitam pahit yang biasa Cornelius minum. Selama ini wajah itu ditutupi oleh topeng dan sekarang ia melihat wajahnya dengan jelas. Terdapat gores luka kecil di keningnya. Dulu ia pernah mencintai pria ini dan Grisell merasa bodoh.
            “Aku sangat… sangat kecewa padamu, Sayang,” bisik Nathan menipiskan bibirnya. Sorot matanya memang memancarkan kekecewaan yang mendalam. Pria itu sangat mencintai Grisell hingga ia bersumpah suatu saat nanti, ia akan menikahi Grisell dan memiliki anak dengannya. Tapi sekarang, wanita itu mengkhianatinya. “Aku mencintaimu dan kupikir kau mencintaiku. Katakan padaku, Manis, apakah kau merindukanku?”
            “Tidak,” ucap Grisell di sela-sela giginya. Tangan pria itu akhirnya memegang rahang Grisell keras hingga mulut Grisell rasanya tercapit. “Bedebah!”
            “Apa mereka mencuci otakmu hingga kau membenciku seperti ini, Grisell? Oh, Tuhan, hatiku sakit sekali,” ucap pria itu menautkan kedua alisnya sekali lagi. Grisell memejamkan matanya, ia tidak ingin merasa iba pada pria itu setelah apa yang telah ia lakukan pada Grisell. Sebuah kecupan jatuh ke mulutnya, terasa sangat basah dan menjijikan. Dengan sepenuh tenaga, Grisell menyentak kepalanya dari pegangan pria itu di rahangnya.
            “Jika kau memang mencintaiku, Nathan, mengapa kau mengikatku seperti ini? Mengapa kau perlu menculikku? Mengapa kau datang di saat yang tidak tepat? Brengsek!” Grisell begitu marah hingga perasaan sedihnya terganti oleh kebencian yang selama ini tak kasat mata. Tidak ada air mata yang mengalir di pipinya. Tidak kali ini. Kesabaran Nathaniel menipis, rahang pria itu menegang dan urat-urat di tangannya mulai muncul karena menahan rasa ingin memukul seseorang. Ia tentu tidak akan meninju Grisell dengan tangannya sendiri, tapi buku-buku jarinya sangat gatal ingin memukul mulut itu. Kereta kuda yang mereka naiki bergerak tak tentu karena hujan turun. Nathaniel bersyukur karena bajingan yang berniat menikahi Grisell pasti akan kewalahan mencari Grisell. Dan terima kasih pada wanita asing yang ia temui beberapa hari yang lalu di Welshing Park, yang telah membantunya.
            Dengan kasar, Nathaniel menarik lengan Grisell hingga wanita itu berpindah dari tempat duduknya ke atas pangkuannya. Di bawah penerangan yang remang-remang, suara hujan deras dan suhu yang dingin, pikiran Nathaniel mulai terbang kemana-mana. Grisell tidak pernah tidak membuatnya kagum. Wanita itu sangat cantik dengan kulit seputih susu, rambut cokelat madu dan mata biru yang selalu Nathaniel tatapi. Itu dulu. Sekarang segalanya rusak hanya karena mulutnya yang lancang! Mungkin wanita itu sudah lupa akan sentuhannya. Mungkin wanita itu sudah lupa kenikmatan yang pernah diberikannya. Mungkin wanita itu hampir gila karena pria yang bernama Bajingan Moore itu tidak berhasil memuaskannya sehingga Grisell melampiaskan perasaan jengkelnya pada Nathan.
            Mata Grisell memancarkan ketakutan yang nyata saat ia merengkuh wanita itu. Wajah mereka begitu dekat hingga Nathan dapat mencium aroma lavender. Oh, sangat memabukkan. “Apa kau ingat sentuhan ini?”
            Pria itu mencium bagian dalam leher Grisell. Jika Lord Moore tahu apa yang terjadi pada Grisell sekarang, burung-burung di udara, ikan-ikan di laut dan batu di tanah tahu, pria itu akan menggila. Hanya jika.

***

            “Sejak kapan ia menghilang?” Lord Myhill menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia duduk di pinggir meja kerja Lord Moore seolah-olah itu adalah propertinya. Mildred memeluk Benjamin di atas sofa dengan perasaan kalut. Hope sedang dicari oleh Cornelius karena tampaknya gadis itu terlalu sibuk mencari Mr. Phee. Dan Bridget, ia berdiri di dekat perapian, menatap pria yang baru saja bertanya pada kakak pertamanya. Dua tangan Lord Moore masuk ke dalam kantong celananya, ia menatap keluar jendela. Hujan turun sejak 20 menit yang lalu. Apa ini memang hari sialnya?
            “Miss Loutin memberitahuku, ia berdansa dengan seorang pria tinggi. Kuduga orang yang tidak kuundang karena Miss Loutin tidak tahu siapa pria itu,” ucap Lord Moore tidak bergerak sama sekali.
            “Bagaimana mungkin? Bukankah seharusnya Mildred mengetahui para tamu yang diundangnya? Bukankah seharusnya kau menyambut para tamumu? Demi Tuhan kalian tidak teliti,” sembur Lord Myhill membuat Bridget tersentak. Mereka tidak teliti? Apa-apaan yang pria itu baru katakan? Lord Moore tidak akan marah akan hinaan itu, tapi pria itu akan marah bila dalam waktu dekat Grisell tak ditemukan. Benjamin mengelus-elus lengan istrinya yang merasa bersalah karena tidak memeriksa keadaan. Tapi Benjamin dan Lord Moore meyakinkan Mildred bahwa ini sepenuhnya bukan kesalahannya. Kecuali Lord Myhill. Pria itu sangat marah mengetahui adiknya ternyata hilang.
            “Ini bukan salah Mildred, demi Tuhan,” geram Lord Moore mengeluarkan tangan kirinya dari kantong celana lalu ia mengusap wajahnya satu kali. Ia harus segera mencari Grisell setelah Hope masuk ke dalam ruang kerjanya. “Ini salahku karena tidak menjaganya,”
            “Oh, memang! Seharusnya kau menjaga—“
            “Bisakah kau tidak membentak kakakku seperti itu, My Lord? Kita semua di sini mencemaskan Miss Parnell, bukan hanya kau. Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan,” tukas Bridget memotong ucapan Lord Myhill. Pria itu mengalihkan pandangannya dari Lord Moore ke wanita itu. Sepasang mata berwarna hijau jernih menatapnya dengan tatapan tidak suka. Mengapa ia tidak pernah menyadari keberadaan wanita ini? Bahkan Lord Myhill tidak pernah tahu kalau ternyata Lord Moore mempunyai adik bermata hijau.
            “Ini tidak akan terjadi jika kakakmu tetap menempatkan Grisell di sampingnya,” balas Lord Myhill tak mau kalah. Bridget menelan ludahnya, dua tangannya berada di belakang punggung dan mulai mencakar-cakar jari-jarinya sendiri. Ia takut dan cemas di saat yang bersamaan. Mildred menatap adiknya dan ia tahu apa yang terjadi pada Bridget. Adiknya yang satu itu senang menyakiti diri sendiri jika ia terintimidasi atau dalam suasana tak bagus.
            “Tapi kau tidak perlu membentaknya seperti itu,” ucap Bridget menautkan kedua alisnya. Tidak, jangan sampai Bridget marah, bisik Mildred dalam hati. Wanita itu segera bangkit dari sofa—membuat suaminya juga ikut bangkit—lalu mendekati Bridget. Lord Myhill terkekeh pelan, ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.
            “Aku tidak membentak, demi Tuhan,” ucap pria itu yakin. Dan memang pria itu tidak membentak. Ia hanya memberi penekanan di setiap katanya pada Lord Moore. “Kalian memang keluarga ceroboh,”
            “Ceroboh katamu? Jadi kau ini apa, Lord Myhill? Sampah masyarakat?” Suara Bridget meninggi. Jika Mildred tidak merangkulnya saat itu, Benjamin tahu apa yang akan Bridget lakukan. Wanita itu pasti akan berlari dan menerjang Lord Myhill—itu sebabnya Bridget lebih memilih menjadi wanita pendiam daripada berbicara dengan orang-orang. Mildred berharap Lord Moore mau menghentikan pertengkaran kecil mereka—karena Mildred yakin Benjamin tidak akan bisa menutup mulut Bridget—tapi saat diliriknya kakak laki-lakinya, Lord Moore sedang melamun seolah-olah telinganya tersumbat oleh sesuatu sehingg tidak dapat mendengar sama sekali.
            “Oh, Tuhan. Kau memang sangat sensitif, ya, Miss Moore? Pantas saja laki-laki tidak pernah menyadari keberadaanmu karena kau mudah tersinggung,” ucap Lord Myhill menggeleng-geleng kepala. Mata hijau Bridget seolah-olah berkata ‘mati saja kau’, tetapi bukan saatnya meladeni tatapan itu. “Pft, aku cukup dengan omong kosong ini. Aku akan mencari Grisell,” tukas pria itu bangkit dari sisi meja.
            “Oh, aku harap kau menemukan Grisell lalu mati setelah itu!” Sumpah wanita itu membuat Lord Myhill terperenyak. Tidak pernah ada yang menyumpahinya mati, tetapi wanita itu… sesuatu yang lain.
            “Temui aku di neraka,” ucap Lord Myhill mengibas-kibaskan tangannya seakan-akan sumpah wanita itu tidak akan merayap ke tubuhnya jika ia menyingkirkannya terlebih dahulu. Mildred menyuruh Bridget diam dan memeluk adiknya. Baru saat itulah Lord Moore bergerak. Gerakan itu tiba-tiba hingga semua orang di tempat itu menatapnya.
            “Bridget, tenangkan dirimu. Kau tidak ingin kukirim ke Amerika hanya karena ucapanmu, bukan? Mildred, bawa Bridget ke kamar. Jika kau bertemu dengan Hope, bawa ia ke kamar juga dan istirahatlah. Tinggalkan kami bertiga di sini.”
            “Tapi—“
            “Lakukan saja apa yang diperintahnya, Mildred,” ucap Benjamin memotong istrinya. Mulut Mildred tertutup saat itu juga, kemudian ia pergi membawa Bridget keluar dari ruang kerja Lord Moore. Mata Bridget terus menatap Lord Myhill seperti tatapan pembunuh bayaran. Setelah dua wanita itu keluar dari ruang kerja Lord Moore, Lord Myhill menghela nafas lega.
            “Oh, adikmu sangat gila, Moore. Bukan ingin menyinggung, tapi itulah kenyataannya,”
            “Hentikan omong kosongmu,” ucap Lord Moore mulai jengkel. “Kita akan mencari Grisell. Lord Paston, cari sheriff agar ia mengerahkan tenaga kerjanya. Lord Myhill, kau sangat persuasif dan mulutmu manis, dan kita berdua tahu kau datang ke sini karena Henrietta. Kuduga ia juga menghilang, tapi itu belum pasti. Jika kau bertemu dengannya, tanyakan keberadaan Grisell. Paksa dia sampai ia buka mulut. Sementara aku… aku akan berkuda menuju London. Apa aku sudah jelas?”
            “Tapi Moore, sekarang hujan,” ucap Benjamin memperingatkan.
            “Aku tidak peduli,”
            “Aku yakin ia tidak menghilang. Pasti ia sedang—oh lupakan, mengapa kau tidak tunggu saja sampai para anak buah Cornelius kembali dan memberi kabar? Dan mungkin—“
            “Kita sedang membicarakan Grisell di sini, demi Tuhan!” Bentak Lord Moore begitu lancar. Lord Myhill sampai harus mengerjap-kerjapkan matanya karena terkejut akan bentakan itu. Oh, ini sangat menarik, kata Lord Myhill dalam hati. “Instingku berkata ia sedang berada dalam bahaya. Miss Loutin tidak kenal pria yang mengajak Grisell berdansa. Dan aku sudah mencari ke tempat kesukaannya, ia tidak ada di sana! Jika ia memang tidak hilang, sudah pasti ia kembali sejak setengah jam yang lalu. Ia diculik! Jadi diam, lakukan apa yang kuperintahkan.”      

***

            Aku mencintaimu, Moore. Maafkan aku, bisik Grisell dalam hati. Bisikan itu terucap dalam hatinya seperti mantra. Bagian atas gaunnya telah dirobek, begitu juga pakaian dalamnya hingga buah dadanya terbuka. Jika Nathaniel berhasil memperkosanya, Grisell lebih memilih mati di tangan Nathaniel dibanding ia harus bertemu dengan Lord Moore dalam keadaan ternodai. Ia sadar bahwa ia mantan pelacur. Tapi ia sudah keluar dari kehidupan lamanya. Ia sudah bersedia menerima kehidupan barunya. Ia bersedia dicintai oleh Lord Moore. Dan ia bersedia menjadi Ibu dari anak-anak Lord Moore. Ia bersedia. Ia pelacur beruntung yang mendapatkan seorang bangsawan seperti Lord Moore. Hanya saja, ia tidak ingin tubuhnya tersentuh oleh orang lain lagi.
            Nathan belum mengecup bibir Grisell. Lidahnya menjilati tulang belikat Grisell sementara tangannya meremas buah dada Grisell yang semakin besar—ia sudah bertumbuh menjadi wanita dewasa. Mata Grisell terbuka, menatap langit-langit kereta kuda dan air matanya yang selama ini ia tahan menetes dari sudut mata.
            “Kau pengecut,” bisik Grisell. “Kau sama saja seperti bajingan lain. Kau tidak mencintaiku. Kau egois. Kau penuh omong kosong. Dan yang paling terburuk dari antara semuanya adalah kau tua,” ucap Grisell berhasil membuat Nathan mengangkat kepalanya dari sela-sela leher Grisell. Nathan tertawa mendengar ucapan itu. Pria itu menelengkan kepalanya ke salah satu sisi. Apakah Grisell sedang bercanda?
            “Kau sadar dulu kau sangat menginginkanku, bukan? Saat itu aku berumur 35 tahun dan kau sangat menginginkanku. Cinta tak pandang umur, Sayangku. Dan aku tidak tua, percayalah padaku. Kita akan memiliki anak-anak yang menggemaskan,”
            “Ya, tentu saja. Dalam mimpimu,” ucap Grisell mengejek. Nathan menatap matanya selama beberapa saat. Kesabarannya yang tadinya menipis sekarang sudah benar-benar hilang. Mereka baru sampai setengah perjalanan menuju pelabuhan, bahkan sampai ke London saja mereka belum sampai. Awalnya ia hanya sedang menggoda Grisell, ingin memberinya kenikmatan dengan jari-jarinya. Tapi sepertinya, Nathan sudah tidak bisa menahan nafsu binatang dan amarahnya. Ia punya dua pilihan; tetap melanjutkan perjalanan atau meminta kereta kuda berhenti di satu penginapan dan menyewa satu kamar untuk satu jam kemudian melanjutkan kembali perjalanan. Ia tahu bajingan itu sekarang mengejarnya. Tapi apalah gunanya uang banyak di kantong jika ia tidak gunakan untuk menutup mulut seseorang? Ia membenarkan pakaian Grisell yang sudah robek hingga buah dada itu tertutup kembali kemudian mengetuk langit-langit kereta kuda sehingga kereta itu seketika berhenti.
            Pintu kereta itu terbuka, kusir kuda yang disewanya melihat keadaan di dalam. “Hujan sangat deras, Milord.”
            “Aku tahu,” ucap Nathan. “Bawa kami ke satu penginapan terdekat dan kita akan beristirahat selama satu jam,”
            “Baik, Milord.” Kusir itu kembali menutup pintu kereta kuda lalu beberapa saat kemudian kereta itu kembali berjalan.
            “Keparat!” Bentak Grisell menggeliat dalam rangkulan Nathan. Tangan besar Nathan kembali menahan rahang bawah Grisell, kali ini dengan kekuatan yang menyakitkan. “Kau banci karena melawan perempuan,” katanya tidak jelas. Mata sayu Nathan menatapnya menggoda, tapi Grisell membalasnya dengan tatapan benci.
            “Ingatkah kau saat kita bercinta, kau selalu mencium luka di leherku dan berharap luka itu akan sembuh? Kau tahu apa? Kau akan melakukan itu lagi malam ini,”
            “Kau sadar bukan kekasihku sedang berada dalam perjalanan untuk menyelamatkanku?” Tanya Grisell dengan nada suara mengejek dan artikulasi yang tidak jelas.
            “Aku satu-satunya kekasihmu dan kita akan bersenang-senang malam ini.”

***

            Henrietta ditemukan dalam rumah kaca. Wanita itu sedang mencium aroma bunga lavender di ruangan itu dan sedang memenangkan diri. Lord Myhill bersandar di mulut pintu, melipat kedua tangannya di depan dada dan memerhatikan wanita itu. Henrietta sedang membungkuk, menghirup dalam-dalam aroma segar lavender dan sepenuhnya tidak menyadari kedatangan Lord Myhill sampai pria itu berdeham.
            “Kau bekerja sama dengan pria jangkung itu,” ucap Lord Myhill tanpa basa-basi. Henrietta terlonjak kaget. Ia berbalik, mendapati sosok Lord Myhill sedang mengamatinya dengan senyum miring. Henrietta merasa jantungnya tersangkut di tenggorokannya. Sebisa mungkin ia menelan ludahnya dan bertanya pada pria itu.
            “Sejak kapan kau berdiri di sana?”
            “Aku tak tahu, 10 menit mungkin?” Tanya Lord Myhill tidak sepenuhnya berdusta. “Katakan padaku, Henrietta, apa yang membuatmu bekerja sama dengan pria jangkung itu? Siapa dia dan mau dibawa kemana Grisell?” Pertanyaan itu membuat Henrietta menarik nafas tajam. Sungguh, Henrietta perlu belajar bersandiwara lebih dalam lagi. Urat-urat berwarna hijau tercetak di leher putihnya, bukti wanita itu tegang. Ia memutarbalikkan tubuhnya ke bunga-bunga lavender lalu jari-jarinya yang panjang menyentuh bunga itu dengan gerakan kaku.
            “Aku tidak tahu apa yang kaubicarakan,”
            “Kau jelas tahu  apa yang kubicarakan, Henrietta,” ucap Lord Myhill melangkah masuk ke dalam. “Aku tahu kau masih menginginkan Lord Moore. Meski aku sangat bingung apa yang membuat wanita tergila-gila padanya, tapi aku tahu kau masih menginginkannya. Saat kau masih berpacaran dengannya, aku yakin kau pernah membayangkan memiliki anak bersamanya dan tinggal di rumah yang sama. Tapi wanita itu datang,”
            Henrietta mengangkat kepalanya, ia menatap keluar jendela. “Aku tidak mengerti apa yang sedang kaubicarakan dan tujuannya. Jika kau ingin berbaik hati, My Lord, aku butuh waktu untuk menyendiri,” ucap Henrietta tegas. Harus Myhill akui, pertahanan wanita itu cukup kuat. Tapi tidak cukup kuat untuk seorang Myhill.
            “Yah, memang sulit untuk mengakui kalau kau masih mengharapkannya. Memang sialan jalang itu tiba-tiba datang menghancurkan hubungan kalian. Bajingan macam apa Lord Moore ini sampai-sampai tega meninggalkanmu demi pelacur seperti Miss Parnell?”
            “Dia memang jalang,” bisik Henrietta. “Seharusnya Lord Moore menikahiku, bukan dia.”
            “Aku tahu,” ucap Lord Myhill yang tiba-tiba sudah berada di belakang punggung Henrietta. Dua tangan besarnya menangkup bahu Henrietta. “Satu-satunya jalan agar Moore dapat menikahimu adalah menyingkirkan si jalang itu selama-lamanya. Tapi membunuh adalah cara yang begitu kejam. Aku dan kau pasti tidak akan tega melakukan itu. Jadi lebih baik bekerja sama dengan seseorang yang memiliki tujuan yang sama denganmu,” bisik pria itu tepat di telinganya. Air mata Henrietta berkumpul kemudian menetes dengan cepat ke atas permukaan lavender.
            Semua bayang-bayang pernikahan ideal di otak Henrietta hancur hanya karena permintaan Ayah Lord Moore agar pria itu menikahi Grisell. Mengapa Lord Moore lebih memilih merendahkan dirinya di hadapan masyarakat dan persetan dengan permintaan Ayahnya dibanding kawin lari dengan Henrietta? Tapi semuanya sudah berjalan sesuai dengan rencana Henrietta. Wanita itu sudah pergi. Lord Moore akan merasa sangat kehilangan dan kesepian. Henrietta akan masuk kembali ke dalam kehidupan pria itu dan membuat pria itu merasa bahwa Henrietta selalu berada di sisinya, apa pun yang terjadi.
            “Ia mengaku sebagai Nathaniel Jacoby. Dia mencintai Grisell, ia menceritakan percintaan mereka berdua 5 tahun yang lalu. Sederhana. Aku menginginkan Moore dan dia menginginkan Grisell. Ia berencana membawa Grisell ke Prancis agar mereka bisa menikah di sana. Sangat romantis,” kata-kata itu meluncur begitu lancar. “Sekarang Lord Moore akan menginginkanku. Tidak ada lagi saingan untukku. Tidak ada lagi wanita yang dapat membuat pria itu tersenyum selain karena aku. Bukankah itu menyenangkan?”
            Tapi tidak ada jawaban dari belakang. Henrietta membalikkan tubuhnya, tapi pria itu sudah pergi dari rumah kaca. Sialan. Bagaimana mungkin Henrietta bisa terhanyut dalam emosinya sendiri? Pria itu akan memberitahu keberadaan Grisell sekarang dan ia akan melaporkan Henrietta kepada polisi. Dia akan dituduh sebagai kaki-tangan atas penculikan. Tidak, tidak, tidak. Sebentar lagi ia akan dipenjara. Dia tidak ingin menjadi tawanan siapa pun! Ia melihat ke sekeliling rumah kaca. Ia mencari sesuatu agar ia dapat hilang dari masalah ini.
            Ia melihat sebuah gunting tanaman di kotak peralatan yang terbuka.
            Jika itu memang satu-satunya jalan.

Jumat, 03 April 2015

Lucky Slut Bab 14




CHAPTER FOURTEEN

            Lord Moore sadar betul bahwa tunangannya sudah lelah. Ia sudah memperingatkan Grisell—setelah pulang berkuda—untuk beristirahat sampai persiapan untuk jamuan makan malam. Tapi untuk yang kesekian kalinya, Grisell tidak menuruti perintah  Lord Moore. Jadi malam itu, Lord Moore menyarankan Grisell agar duduk di salah satu kursi bersama-sama para wanita muda yang masih lajang di pinggir tembok agar Lord Moore masih bisa melihatnya.
            “Jika kau membutuhkanku, suruh Cornelius atau siapa pun untuk memanggilku. Apa kau mengerti?” Tanya pria itu sebelum Grisell beranjak dari sampingnya. Pria itu tentu saja tidak ingin dibantah, jadi Grisell mengangguk. “Katakan,”
            “Aku akan memanggilmu bila aku membutuhkanmu. Aku mengerti, Moore,” ucap Grisell memutar bola matanya. Cengkeraman tangan Lord Moore di lengannya mengendur dan pria itu membiarkan Grisell pergi. Bagi Grisell, tiap kali ia berbalik, melangkah kemana pun, atau menoleh ke segala arah, ia akan dihujani oleh ucapan selamat dan banyak pertanyaan tentang hubungan mereka. Para orangtua yang sudah berpengalaman selalu membuat lelucon tentang ranjang sementara para bujangan selalu membuat emosi Lord Moore mendidih karena sepertinya mata mereka tidak bisa tidak menjelajahi lekuk tubuh Grisell yang terbalut dalam gaun merah.
            Di sela-sela perkenalan Grisell dengan para tamu undangan Lord Moore, wanita itu sesekali permisi untuk melakukan dansa waltz dengan pria yang namanya telah Grisell tulis di kartunya. Grisell sedang duduk di atas kursi santai bersama para lajang yang menatapinya, tapi ia tidak menggubris. Grisell duduk tegak, lalu mengambil satu gelas anggur saat salah satu pelayan lewat membawa nampan berisi beberapa gelas anggur, sambil memerhatikan para tamu undangan yang sedang berdansa. Termasuk Henrietta yang sedang berdansa dengan salah satu bangsawan. Satu hal yang membuat Grisell risih selama acara berlangsung adalah tatapan kakak tirinya yang sepertinya tidak bisa tidak mengamati Grisell dari jarak jauh. Pertemuan mereka yang singkat membuat hubungan mereka kelihatan konyol dan—anehnya—menyenangkan. Grisell ingin menghampiri Lord Myhill dan bercanda dengannya seperti saat mereka bertemu di ruang duduk. Tapi ia tidak berani karena itu akan membuat semua orang di tempat ini akan menyadari kemiripan di antara mereka. Grisell masih belum ingin diketahui sebagai anak haram antar bangsawan dan orang miskin—meski Lord Myhill telah meyakinkan Grisell bahwa ia tidak akan mendengarkan apa pun gosip tentangnya.
            Saat itu kakaknya duduk, memandanginya dari kursi di ruang duduk.
            “Aku hampir saja memacari adik tiriku sendiri,” ucap Lord Myhill duduk bersandar di kursi dengan kaki yang diselonjorkan. Grisell tidak mengerti mengapa Lord Myhill tidak seperti Lord Moore yang kaku dan formal. Pria itu santai dan… seperti pria impian Grisell selama ini. Hanya saja, ternyata apa yang Grisell impikan tidak seindah kenyataan sekarang. Setelah berkuda selama satu jam bersama Lord Moore, Grisell berpisah dengan pria itu dan segera berjalan menuju ruang duduk. Tidak ada sapaan selamat siang atau halo, pria itu langsung menyemburnya dengan satu kalimat yang membuat Grisell menahan nafas.
            “Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu yakin,” ucap Grisell mengedik bahu. “Katakanlah kita bukan kakak beradik, apakah menurutmu aku akan menerimamu sebagai kekasihku?”
            “Sayangku, kita berdua tahu, pesonaku lebih hebat dibanding Moore,” ujar Lord Myhill dengan rasa percaya diri yang kelewat batas. Meski begitu, apa yang Lord Myhill katakan benar adanya. Kakak tirinya memang lebih tampan, lebih memesona, lebih santai dan perayu ulung dan sudah jelas jika dibandingkan dengan Lord Moore yang membosankan, formal, serius, dan canggung itu, kakak tirinya pasti lebih ‘laku’. “Aku terkejut karena seharian ini aku belum mendengar satu kata pun dari orang lain tentang kemiripan kita. Kau tahu, kau memang mirip Ayah,”
            “Aku tidak mirip dengannya,” tukasnya cepat-cepat.
            “Bagaimana bisa kau tahu sementara seumur hidupmu saja, kau belum pernah melihatnya? Kau punya matanya, sama seperti mataku. Bibirmu mirip dengan bibir Ayah, sama seperti milikku. Kecuali rambut itu. Ibuku juga mempunyai rambut cokelat madu sepertimu dan yah, warna rambutnya diturunkan padaku. Akuilah, Sayang, kita kakak beradik,” kata Lord Myhill tersenyu miring. Tangan Lord Myhill menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
            “Aku tidak akan lama. Lord Moore akan menyadari kehilanganku jika aku tidak dilihatnya selama satu jam,” ucap Grisell yakin dan penuh percaya diri. Tentu saja Lord Moore akan mencarinya jika orang-orang di rumah tidak tahu keberadaannya di ruang duduk. Senyum Lord Myhill semakin melebar. Mau tak mau, Grisell juga ikut tersenyum meski ia tidak mengerti mengapa. Mata Lord Myhill menunjuk pada sofa yang ada di depannya, memberi kesempatan pada Grisell untuk duduk di sana. Yah, setidaknya hari ini pria itu tidak sama sekali kasar padanya. “Mungkin dia tidak akan keberatan aku hilang sebentar,” lanjut Grisell akhirnya memilih duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan Lord Myhill.
            “Aku sudah berjanji padanya untuk tidak menyakitimu. Lagi pula aku tidak akan berani menyakiti gadis muda sepertimu, Sayang. Nah, apakah kau ingin tahu tentang Ayah kandungmu atau tidak?”
            “Aku lebih memilih tahu tentangmu dibanding dia,” ucap Grisell bersandar di sofanya. Lord Myhill menarik nafas tajam. Moore sudah memberitahu tentang pertemuannya dengan Grisell di rumah pelacuran. Meski Lord Myhill sudah bertanya tentang masa lalu adik tirinya, pria itu lebih memilih agar Lord Myhill menanyakannya sendiri pada Grisell. Sosok Grisell tampak rapuh, tapi sejak pertemuan mereka kemarin di ruang tamu, Lord Myhill tahu wanita itu kuat. Lord Myhill tersenyum kecil mengingat bagaimana Grisell tidak senang diejeknya kemarin. Yah, ia bisa dikatakan terkejut, jengkel, dan senang secara bersamaan saat tahu dirinya adalah kakak tiri dari gadis ini. Bangsawan sinting mana yang ingin mempunyai saudara yang berprofesi sebagai pelacur? Mungkin dia seorang.
            Ia tidak akan berpura-pura menganggap Ayahnya seorang pria bangsawan yang setia pada istrinya. Tentu saja, satu wanita tidak akan cukup bagi satu pria, itu pendapat Lord Myhill selama ini. Dan seharusnya Lord Myhill tidak terkejut karena memiliki adik tiri. Bukan apa-apa, tapi gadis itu sangat cantik untuk menjadi adik tirinya. Hampir Lord Myhill meniduri Grisell jika ia tidak tahu kalau Grisell adalah adik tirinya. Meski begitu, Grisell memang mirip dengannya. Tidak identik, tapi tetap saja mereka memiliki beberapa kesamaan yang jika orang-orang pintar menilai, mereka pasti menyadarinya. Siapa Ibu Grisell hingga bisa menghasilkan anak secantik ini?
            “My Lord?” Suara Grisell membuat Lord Myhill mengangkat pandangannya pada mata adiknya. “Apa kau akan menjawabnya atau tidak?”
            “Oh ya, tentu saja,” jawab Lord Myhill memberi senyum yang dimana setiap wanita lajang yang melihatnya pasti akan terbang. “Tentangku …hmm, aku anak tunggal yang suka wanita. Sebut saja namanya, aku pasti tahu wanita itu. Mungkin hampir satu wanita keturunan bangsawan di London telah tahu kehebatanku di ranjang. Sayang sekali kita adalah kakak beradik,”
            “Ya, sayang sekali,” bisik Grisell mengejek. Wanita itu menegakkan punggungnya, membuat Lord Myhill mengangkat tubuhnya dari sandaran kursi. “Biar kuluruskan apa pun yang ada  di pikiranmu sekarang, My Lord. Aku tidak mau siapa pun tahu kalau kita adalah saudara tiri untuk sementara ini. Aku senang mendapati dirimu mau menerimaku menjadi adikmu, itu sangat jarang terjadi—menurut Lord Moore—di Inggris. Meski begitu, kita harus tetap menjaga jarak agar tidak mencurigakan. Apa kau mengerti?”
            Pria itu membungkuk, kedua sikunya bertumpu pada ujung lutut. Dua tangannya saling bertautan dan kedua jari telunjuknya menekan bibirnya. “Mengapa?”
            “Aku hanya belum siap menerima cercaan. Belum lagi karena aku adalah tunangan Lord Moore. Aku tak ingin hanya karena dari mana aku berasal, orang-orang akan menghinanya,”
            “Manis sekali,” ucap pria itu menurunkan jari-jari itu dari bibirnya. “Terserahlah. Orang-orang lambat laun juga akan sadar. Tapi mereka tidak akan berani menggosipimu. Pertama, calon suamimu adalah orang yang sangat berpengaruh. Kedua, kakakmu ini akan membungkam mulut mereka dengan tinju jika mereka berani mengatakan yang jelek-jelek tentangmu. Mungkin aku akan jadi sering datang ke sini untuk memeriksa keadaanmu,”
            “Mengapa?” Tanya Grisell mengangkat salah satu alisnya.
            “Karena aku adalah kakakmu, Grisell,” kata pria itu serius. Dua pasang mata yang memiliki warna mata yang sama saling bertatapan. Untuk yang pertama kalinya, dalam seumur hidupnya, Grisell ingin menangis terharu. Kakak tiri yang seharusnya membencinya justru ingin menjaganya. “Kau satu-satunya saudara yang kupunya. Jika kau butuh apa pun, panggil saja aku. Apa kau mengerti? Sudah menjadi tanggungjawab seorang kakak menjaga adik. Jadi, kalau-kalau saja Moore menyakitimu, pergilah ke rumahku di London. Kapan-kapan akan kuajak kau ke sana,”
            “Aku akan senang pergi ke sana,” ucap Grisell tersenyum lebar. Ia tidak pernah merasa sesenang ini. Ia merasa begitu percaya diri. Mengapa ia bisa menerima kasih sayang kakaknya sementara Lord Moore tidak? Grisell memutuskan untuk memberi kejutan pada Lord Moore nanti malam. Dan ia yakin, Lord Moore pasti akan menyukainya dan—
            Grisell hampir tidak bisa bernafas saat ia melihat pria bertubuh jangkung masuk ke dalam ruang dansa. Lamunannya yang menyenangkan tiba-tiba saja hancur hanya karena melihat pria itu. Ya Tuhan, apakah benar itu dia? Tapi tidak mungkin. Dia bukan pria bangsawan dan tentu saja, tidak akan diundang oleh Lord Moore. Pria itu mengambil satu gelas anggur dan menyesapnya pelan. Beberapa wanita mulai mendekati pria itu dan dengan sopan ia menyapa wanita-wanita itu satu per satu. Grisell butuh udara. Ia melihat ke sekeliling, mencari dimana Lord Moore. Pria itu sedang berbicara dengan salah satu pengacara terkenal di London, wajahnya kelihatan serius. Yang ia perlu lakukan hanyalah mencari Lord Moore jika ia butuh. Untuk sementara ini, sepertinya ia belum.
            Pria itu baru saja menyelesaikan anggur pertamanya. Langkah pria itu semakin lama membawanya pada Grisell. Wanita itu berpura-pura tidak melihat pria itu. Ia memalingkan kepalanya dan berdiri. Grisell mencari kembali dimana Lord Moore, dan pria itu masih tetap di tempat yang sama. Semoga saja pria itu tetap ada di sana. Saat Grisell ingin beranjak dari tempatnya, pria itu sudah berada di hadapannya.
            “Bukankah kau permata paling indah di antara semuanya, Miss? Adalah kekecewaan besar jika kau menolak tawaran dansaku,” ucap pria itu, memohon. Pakaian yang rapi, rambut hitam yang ditumbuhi beberapa rambut putih, gigi rapi dan senyum menawan. Tapi Grisell masih ragu. Mungkin dia memang bukan pria yang Grisell kira. Tidak jika melihat gaya rambutnya dan bagaimana pria itu bergerak.
            “Aku yakin pasti banyak wanita yang ingin denganmu,”
            “Tapi hanya kau yang kuinginkan. Satu waltz akan sangat berarti bagiku,” ucap pria itu persuasif. Bukan sebuah kesopanan jika Grisell menolak pria ini. Pria itu mengambil tangan Grisell lalu membawanya dengan anggun ke lantai dansa. Waltz sebelumnya telah selesai. Sekarang beberapa pasangan baru telah berada di lantai dansa dan menempatkan tangan mereka seperti yang mereka ketahui. Pria itu tinggi, kulit tubuhnya cokelat keemasan, dan sangat mirip dengan Nathaniel. “Kau sangat cantik, Miss,”
            “Parnell. Miss Parnell,” ucap Grisell tersenyum. Grisell menempatkan tangan kirinya ke atas pundak pria itu lalu tangan kananya saling bertautan dengan tangan pria itu sementara tangan kanan pria itu berada di pinggang Grisell. Jika pria itu menempatkan satu tangan lagi di pinggangnya, sudah jelas pria itu seperti menggenggam pinggang Grisell. Musik mengalun. Pria itu membawanya seperti Lord Moore membawanya menari. Mereka sama lihainya, hanya saja, jika bersama pria ini, Grisell merasa ingin menangis. Ada sesuatu. Sesuatu dalam diri pria itu yang membuat emosi Grisell menumpuk menjadi satu. Siapa pria ini?
            “Apakah aku boleh tahu siapa namamu, My Lord?” Tanya Grisell penasaran.
            “Oh, aku bukan bangsawan, Miss Parnell,” ucap pria itu tersanjung. “Isaac. Orang-orang memanggilku Kneevet,” lanjut pria itu membuat Grisell menghela nafas lega. Namun hatinya masih terusik. Tapi sejak saat itu, tidak ada percakapan apa pun di antara mereka. Isaac membawanya menari seolah-olah mereka sedang terbang. Tiap kali Grisell menatap wajah pria itu, ia teringat akan Nathaniel. Dia memang bukan pria muda, tapi pesonanya masih dapat memikat para wanita muda. Akhirnya Grisell memutuskan bertanya.
            “Aku tidak melihat cincin di jarimu. Apa kau memang belum menikah atau sedang menyembunyikan istrimu?” Tanya Grisell berhasil membuat Isaac terkekeh pelan.
            “Aku belum menikah. Aku hanya jatuh cinta dengan satu wanita ini, tapi aku rasa aku tidak bisa memilikinya. Kecuali jika aku melakukan jalan alternatif,” ucap pria itu menatap Grisell lekat-lekat. Wanita itu menelan ludahnya seperti ia sedang memakan kue kering yang tidak ia kunyah terlebih dahulu. Ia butuh udara. “Apa kau baik-baik saja, Miss Parnell?”
            “Aku butuh udara, Mr. Kneevet,” ucap Grisell mulai kesulitan bernafas.
            “Biar kutemani,” tukas pria itu cepat-cepat. Isaac menarik tangan Grisell pergi keluar dari lantai dansa. Mereka melewati beberapa orang menuju pintu taman depan. Mr. Phee yang sedang tidur di dekat pintu utama terbangun mendengar suara hentakan kaki terburu-buru. Saat melihat Grisell yang melangkah, Mr. Phee segera pergi dari tempat itu. Sampai kapan pun Mr. Phee akan membenci Grisell karena wanita itu membuat Hope lebih dekat dengan Grisell dibanding Mr. Phee.
            Bukannya berhenti di teras depan, Grisell justru melangkah turun ke jalur dimana kereta kuda berhenti di sana. Wajahnya diterpa angin malam. Ia menarik nafas dalam-dalam, merasakan udara memenuhi paru-parunya lalu menghelanya pelan-pelan. Isaac mengelus pundaknya. Seharusnya Eunice ada di belakangnya agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Terlebih lagi mereka hanya berdua di halaman depan. Sekalipun ada orang, mereka tidak akan menyadari keberadaan mereka berdua.
            Setelah menarik nafas beberapa kali, akhirnya Grisell dapat bernafas dengan normal.
            “Lebih baik?” Tanya Isaac perhatian.
            “Ya, terima kasih,” ucap Grisell. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi raut wajah meminta maaf pada Isaac. “Maafkan aku menyeretmu sampai keluar. Aku tidak bermaksud merepotkanmu,”
            “Tidak apa-apa,” kata Isaac bersungguh-sungguh. Grisell menunduk, menatap tanah yang dipijakinya. “Kau butuh sapu tangan?” Tapi pria itu sudah mengeluarkan sapu tangannya. Grisell menerimanya malu-malu, tapi ia tidak segera memakainya. Ia mendongak, memerhatikan pria itu. Cravat pria itu sudah lepas, sekarang dua kancing teratasnya terbuka.
            “Kau kepanasan?”
            “Ya, aku heran mengapa sedikit sekali orang berada di luar rumah,” komentar Isaac menarik-narik kerah kemejanya. Tubuh Grisell menegang. Sapu tangan yang digenggamnya jatuh begitu saja saat ia melihat luka itu. Luka yang begitu Grisell kenang. Luka yang sering Grisell kecup dan ia berharap luka itu hilang di leher itu. Grisell merasa dunia berputar di sekelilingnya. Lehernya tercekat.
            Nathaniel?” Ucapnya lirih. Matanya seperti tertusuk-tusuk hingga air mata mengumpul di pelupuk matanya. “Kau di sini,”
            Pria itu akhirnya tersenyum. Demi Tuhan itu adalah senyum yang sering diberikan Nathaniel sebelum pria itu pergi meninggalkannya selama bertahun-tahun. “Ya, aku di sini. Aku mencarimu, Sayang,”
            “Tapi kau tidak pernah kembali,” bisik Grisell tak percaya. Tangan Isaac terangkat, jari-jarinya yang besar mengelus pipi Grisell. “Sudah lima tahun aku menunggu tapi—“
            “Ssh, aku di sini,” ucap Isaac berusaha menenangkannya. “Jangan menangis, Manis. Aku benci melihatmu sedih,”
            “Tapi aku sudah menunggu dan kau tidak pernah kembali. Siapa kau sebenarnya?”            “Pria yang mencarimu selama beberapa minggu terakhir ini. Sudah kukatakan padamu, Manis, aku akan kembali padamu. Kau sangat tidak sabar,”
            “Setiap orang punya batas kesabaran, Nathaniel. Kenapa kau baru kembali sekarang? Kenapa di saat aku telah mencintai orang lain?” Tangan Grisell menyentuh pergelangan tangan Isaac. Pria itu menarik nafas tajam. Dua alisnya bertaut tak suka. Siapa pun yang melihatnya tahu bahwa pria itu marah.
            “Kau mencintai orang lain?” Tanyanya kasar. “Tapi aku mencintaimu, Grisell. Aku bekerja keras dan memupuk kekayaan agar kita bisa membangun rumah tangga. Kau tidak mencintai pria itu. Saat kudengar kau tinggal bersama Lord Moore, aku marah sekali. Dia bajingan tak tahu diri. Kau tidak mencintainya, Grisell,” ucap pria itu yakin. Grisell tidak yakin siapa yang sedang ia hadapi. Tapi ia ingin mengelus pipinya, memberitahu padanya bahwa semuanya telah berakhir.
            “Tapi kau terlambat,” bisik Grisell.
            “Tidak ada kata terlambat untukku, apa kau mengerti? Sekarang, ayo kita pergi ke Paris dan tinggalkan para bajingan omong kosong itu,” ucap Isaac membujuk.
            “Aku tidak bisa,” ucap Grisell. Isaac terperangah atas jawaban itu. Ia tidak mengatakan apa pun—yang dimana itu sangat menyiksa Grisell. Ia tidak dapat menahannya lagi. Air matanya sudah berkumpul di pelupuk matanya, pandangannya kabur namun ia dapat melihat Isaac mengangguk pada seseorang di belakang Grisell. Dalam sekejap, wajah Grisell tersekap oleh satu sapu tangan.
            “Seperti yang kubilang, ‘kecuali jika aku melakukan jalan alternatif’,” ucap Isaac tersenyum. Grisell sempat memberontak, namun dekapan pada wajahnya membuatnya tak dapat bernafas dan semakin lama kegelapan menjemputnya. Terakhir yang  ia dengar adalah suara seorang wanita.
            Ia membutuhkan Lord Moore.
            Sekarang.