Jumat, 03 April 2015

Lucky Slut Bab 14




CHAPTER FOURTEEN

            Lord Moore sadar betul bahwa tunangannya sudah lelah. Ia sudah memperingatkan Grisell—setelah pulang berkuda—untuk beristirahat sampai persiapan untuk jamuan makan malam. Tapi untuk yang kesekian kalinya, Grisell tidak menuruti perintah  Lord Moore. Jadi malam itu, Lord Moore menyarankan Grisell agar duduk di salah satu kursi bersama-sama para wanita muda yang masih lajang di pinggir tembok agar Lord Moore masih bisa melihatnya.
            “Jika kau membutuhkanku, suruh Cornelius atau siapa pun untuk memanggilku. Apa kau mengerti?” Tanya pria itu sebelum Grisell beranjak dari sampingnya. Pria itu tentu saja tidak ingin dibantah, jadi Grisell mengangguk. “Katakan,”
            “Aku akan memanggilmu bila aku membutuhkanmu. Aku mengerti, Moore,” ucap Grisell memutar bola matanya. Cengkeraman tangan Lord Moore di lengannya mengendur dan pria itu membiarkan Grisell pergi. Bagi Grisell, tiap kali ia berbalik, melangkah kemana pun, atau menoleh ke segala arah, ia akan dihujani oleh ucapan selamat dan banyak pertanyaan tentang hubungan mereka. Para orangtua yang sudah berpengalaman selalu membuat lelucon tentang ranjang sementara para bujangan selalu membuat emosi Lord Moore mendidih karena sepertinya mata mereka tidak bisa tidak menjelajahi lekuk tubuh Grisell yang terbalut dalam gaun merah.
            Di sela-sela perkenalan Grisell dengan para tamu undangan Lord Moore, wanita itu sesekali permisi untuk melakukan dansa waltz dengan pria yang namanya telah Grisell tulis di kartunya. Grisell sedang duduk di atas kursi santai bersama para lajang yang menatapinya, tapi ia tidak menggubris. Grisell duduk tegak, lalu mengambil satu gelas anggur saat salah satu pelayan lewat membawa nampan berisi beberapa gelas anggur, sambil memerhatikan para tamu undangan yang sedang berdansa. Termasuk Henrietta yang sedang berdansa dengan salah satu bangsawan. Satu hal yang membuat Grisell risih selama acara berlangsung adalah tatapan kakak tirinya yang sepertinya tidak bisa tidak mengamati Grisell dari jarak jauh. Pertemuan mereka yang singkat membuat hubungan mereka kelihatan konyol dan—anehnya—menyenangkan. Grisell ingin menghampiri Lord Myhill dan bercanda dengannya seperti saat mereka bertemu di ruang duduk. Tapi ia tidak berani karena itu akan membuat semua orang di tempat ini akan menyadari kemiripan di antara mereka. Grisell masih belum ingin diketahui sebagai anak haram antar bangsawan dan orang miskin—meski Lord Myhill telah meyakinkan Grisell bahwa ia tidak akan mendengarkan apa pun gosip tentangnya.
            Saat itu kakaknya duduk, memandanginya dari kursi di ruang duduk.
            “Aku hampir saja memacari adik tiriku sendiri,” ucap Lord Myhill duduk bersandar di kursi dengan kaki yang diselonjorkan. Grisell tidak mengerti mengapa Lord Myhill tidak seperti Lord Moore yang kaku dan formal. Pria itu santai dan… seperti pria impian Grisell selama ini. Hanya saja, ternyata apa yang Grisell impikan tidak seindah kenyataan sekarang. Setelah berkuda selama satu jam bersama Lord Moore, Grisell berpisah dengan pria itu dan segera berjalan menuju ruang duduk. Tidak ada sapaan selamat siang atau halo, pria itu langsung menyemburnya dengan satu kalimat yang membuat Grisell menahan nafas.
            “Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu yakin,” ucap Grisell mengedik bahu. “Katakanlah kita bukan kakak beradik, apakah menurutmu aku akan menerimamu sebagai kekasihku?”
            “Sayangku, kita berdua tahu, pesonaku lebih hebat dibanding Moore,” ujar Lord Myhill dengan rasa percaya diri yang kelewat batas. Meski begitu, apa yang Lord Myhill katakan benar adanya. Kakak tirinya memang lebih tampan, lebih memesona, lebih santai dan perayu ulung dan sudah jelas jika dibandingkan dengan Lord Moore yang membosankan, formal, serius, dan canggung itu, kakak tirinya pasti lebih ‘laku’. “Aku terkejut karena seharian ini aku belum mendengar satu kata pun dari orang lain tentang kemiripan kita. Kau tahu, kau memang mirip Ayah,”
            “Aku tidak mirip dengannya,” tukasnya cepat-cepat.
            “Bagaimana bisa kau tahu sementara seumur hidupmu saja, kau belum pernah melihatnya? Kau punya matanya, sama seperti mataku. Bibirmu mirip dengan bibir Ayah, sama seperti milikku. Kecuali rambut itu. Ibuku juga mempunyai rambut cokelat madu sepertimu dan yah, warna rambutnya diturunkan padaku. Akuilah, Sayang, kita kakak beradik,” kata Lord Myhill tersenyu miring. Tangan Lord Myhill menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
            “Aku tidak akan lama. Lord Moore akan menyadari kehilanganku jika aku tidak dilihatnya selama satu jam,” ucap Grisell yakin dan penuh percaya diri. Tentu saja Lord Moore akan mencarinya jika orang-orang di rumah tidak tahu keberadaannya di ruang duduk. Senyum Lord Myhill semakin melebar. Mau tak mau, Grisell juga ikut tersenyum meski ia tidak mengerti mengapa. Mata Lord Myhill menunjuk pada sofa yang ada di depannya, memberi kesempatan pada Grisell untuk duduk di sana. Yah, setidaknya hari ini pria itu tidak sama sekali kasar padanya. “Mungkin dia tidak akan keberatan aku hilang sebentar,” lanjut Grisell akhirnya memilih duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan Lord Myhill.
            “Aku sudah berjanji padanya untuk tidak menyakitimu. Lagi pula aku tidak akan berani menyakiti gadis muda sepertimu, Sayang. Nah, apakah kau ingin tahu tentang Ayah kandungmu atau tidak?”
            “Aku lebih memilih tahu tentangmu dibanding dia,” ucap Grisell bersandar di sofanya. Lord Myhill menarik nafas tajam. Moore sudah memberitahu tentang pertemuannya dengan Grisell di rumah pelacuran. Meski Lord Myhill sudah bertanya tentang masa lalu adik tirinya, pria itu lebih memilih agar Lord Myhill menanyakannya sendiri pada Grisell. Sosok Grisell tampak rapuh, tapi sejak pertemuan mereka kemarin di ruang tamu, Lord Myhill tahu wanita itu kuat. Lord Myhill tersenyum kecil mengingat bagaimana Grisell tidak senang diejeknya kemarin. Yah, ia bisa dikatakan terkejut, jengkel, dan senang secara bersamaan saat tahu dirinya adalah kakak tiri dari gadis ini. Bangsawan sinting mana yang ingin mempunyai saudara yang berprofesi sebagai pelacur? Mungkin dia seorang.
            Ia tidak akan berpura-pura menganggap Ayahnya seorang pria bangsawan yang setia pada istrinya. Tentu saja, satu wanita tidak akan cukup bagi satu pria, itu pendapat Lord Myhill selama ini. Dan seharusnya Lord Myhill tidak terkejut karena memiliki adik tiri. Bukan apa-apa, tapi gadis itu sangat cantik untuk menjadi adik tirinya. Hampir Lord Myhill meniduri Grisell jika ia tidak tahu kalau Grisell adalah adik tirinya. Meski begitu, Grisell memang mirip dengannya. Tidak identik, tapi tetap saja mereka memiliki beberapa kesamaan yang jika orang-orang pintar menilai, mereka pasti menyadarinya. Siapa Ibu Grisell hingga bisa menghasilkan anak secantik ini?
            “My Lord?” Suara Grisell membuat Lord Myhill mengangkat pandangannya pada mata adiknya. “Apa kau akan menjawabnya atau tidak?”
            “Oh ya, tentu saja,” jawab Lord Myhill memberi senyum yang dimana setiap wanita lajang yang melihatnya pasti akan terbang. “Tentangku …hmm, aku anak tunggal yang suka wanita. Sebut saja namanya, aku pasti tahu wanita itu. Mungkin hampir satu wanita keturunan bangsawan di London telah tahu kehebatanku di ranjang. Sayang sekali kita adalah kakak beradik,”
            “Ya, sayang sekali,” bisik Grisell mengejek. Wanita itu menegakkan punggungnya, membuat Lord Myhill mengangkat tubuhnya dari sandaran kursi. “Biar kuluruskan apa pun yang ada  di pikiranmu sekarang, My Lord. Aku tidak mau siapa pun tahu kalau kita adalah saudara tiri untuk sementara ini. Aku senang mendapati dirimu mau menerimaku menjadi adikmu, itu sangat jarang terjadi—menurut Lord Moore—di Inggris. Meski begitu, kita harus tetap menjaga jarak agar tidak mencurigakan. Apa kau mengerti?”
            Pria itu membungkuk, kedua sikunya bertumpu pada ujung lutut. Dua tangannya saling bertautan dan kedua jari telunjuknya menekan bibirnya. “Mengapa?”
            “Aku hanya belum siap menerima cercaan. Belum lagi karena aku adalah tunangan Lord Moore. Aku tak ingin hanya karena dari mana aku berasal, orang-orang akan menghinanya,”
            “Manis sekali,” ucap pria itu menurunkan jari-jari itu dari bibirnya. “Terserahlah. Orang-orang lambat laun juga akan sadar. Tapi mereka tidak akan berani menggosipimu. Pertama, calon suamimu adalah orang yang sangat berpengaruh. Kedua, kakakmu ini akan membungkam mulut mereka dengan tinju jika mereka berani mengatakan yang jelek-jelek tentangmu. Mungkin aku akan jadi sering datang ke sini untuk memeriksa keadaanmu,”
            “Mengapa?” Tanya Grisell mengangkat salah satu alisnya.
            “Karena aku adalah kakakmu, Grisell,” kata pria itu serius. Dua pasang mata yang memiliki warna mata yang sama saling bertatapan. Untuk yang pertama kalinya, dalam seumur hidupnya, Grisell ingin menangis terharu. Kakak tiri yang seharusnya membencinya justru ingin menjaganya. “Kau satu-satunya saudara yang kupunya. Jika kau butuh apa pun, panggil saja aku. Apa kau mengerti? Sudah menjadi tanggungjawab seorang kakak menjaga adik. Jadi, kalau-kalau saja Moore menyakitimu, pergilah ke rumahku di London. Kapan-kapan akan kuajak kau ke sana,”
            “Aku akan senang pergi ke sana,” ucap Grisell tersenyum lebar. Ia tidak pernah merasa sesenang ini. Ia merasa begitu percaya diri. Mengapa ia bisa menerima kasih sayang kakaknya sementara Lord Moore tidak? Grisell memutuskan untuk memberi kejutan pada Lord Moore nanti malam. Dan ia yakin, Lord Moore pasti akan menyukainya dan—
            Grisell hampir tidak bisa bernafas saat ia melihat pria bertubuh jangkung masuk ke dalam ruang dansa. Lamunannya yang menyenangkan tiba-tiba saja hancur hanya karena melihat pria itu. Ya Tuhan, apakah benar itu dia? Tapi tidak mungkin. Dia bukan pria bangsawan dan tentu saja, tidak akan diundang oleh Lord Moore. Pria itu mengambil satu gelas anggur dan menyesapnya pelan. Beberapa wanita mulai mendekati pria itu dan dengan sopan ia menyapa wanita-wanita itu satu per satu. Grisell butuh udara. Ia melihat ke sekeliling, mencari dimana Lord Moore. Pria itu sedang berbicara dengan salah satu pengacara terkenal di London, wajahnya kelihatan serius. Yang ia perlu lakukan hanyalah mencari Lord Moore jika ia butuh. Untuk sementara ini, sepertinya ia belum.
            Pria itu baru saja menyelesaikan anggur pertamanya. Langkah pria itu semakin lama membawanya pada Grisell. Wanita itu berpura-pura tidak melihat pria itu. Ia memalingkan kepalanya dan berdiri. Grisell mencari kembali dimana Lord Moore, dan pria itu masih tetap di tempat yang sama. Semoga saja pria itu tetap ada di sana. Saat Grisell ingin beranjak dari tempatnya, pria itu sudah berada di hadapannya.
            “Bukankah kau permata paling indah di antara semuanya, Miss? Adalah kekecewaan besar jika kau menolak tawaran dansaku,” ucap pria itu, memohon. Pakaian yang rapi, rambut hitam yang ditumbuhi beberapa rambut putih, gigi rapi dan senyum menawan. Tapi Grisell masih ragu. Mungkin dia memang bukan pria yang Grisell kira. Tidak jika melihat gaya rambutnya dan bagaimana pria itu bergerak.
            “Aku yakin pasti banyak wanita yang ingin denganmu,”
            “Tapi hanya kau yang kuinginkan. Satu waltz akan sangat berarti bagiku,” ucap pria itu persuasif. Bukan sebuah kesopanan jika Grisell menolak pria ini. Pria itu mengambil tangan Grisell lalu membawanya dengan anggun ke lantai dansa. Waltz sebelumnya telah selesai. Sekarang beberapa pasangan baru telah berada di lantai dansa dan menempatkan tangan mereka seperti yang mereka ketahui. Pria itu tinggi, kulit tubuhnya cokelat keemasan, dan sangat mirip dengan Nathaniel. “Kau sangat cantik, Miss,”
            “Parnell. Miss Parnell,” ucap Grisell tersenyum. Grisell menempatkan tangan kirinya ke atas pundak pria itu lalu tangan kananya saling bertautan dengan tangan pria itu sementara tangan kanan pria itu berada di pinggang Grisell. Jika pria itu menempatkan satu tangan lagi di pinggangnya, sudah jelas pria itu seperti menggenggam pinggang Grisell. Musik mengalun. Pria itu membawanya seperti Lord Moore membawanya menari. Mereka sama lihainya, hanya saja, jika bersama pria ini, Grisell merasa ingin menangis. Ada sesuatu. Sesuatu dalam diri pria itu yang membuat emosi Grisell menumpuk menjadi satu. Siapa pria ini?
            “Apakah aku boleh tahu siapa namamu, My Lord?” Tanya Grisell penasaran.
            “Oh, aku bukan bangsawan, Miss Parnell,” ucap pria itu tersanjung. “Isaac. Orang-orang memanggilku Kneevet,” lanjut pria itu membuat Grisell menghela nafas lega. Namun hatinya masih terusik. Tapi sejak saat itu, tidak ada percakapan apa pun di antara mereka. Isaac membawanya menari seolah-olah mereka sedang terbang. Tiap kali Grisell menatap wajah pria itu, ia teringat akan Nathaniel. Dia memang bukan pria muda, tapi pesonanya masih dapat memikat para wanita muda. Akhirnya Grisell memutuskan bertanya.
            “Aku tidak melihat cincin di jarimu. Apa kau memang belum menikah atau sedang menyembunyikan istrimu?” Tanya Grisell berhasil membuat Isaac terkekeh pelan.
            “Aku belum menikah. Aku hanya jatuh cinta dengan satu wanita ini, tapi aku rasa aku tidak bisa memilikinya. Kecuali jika aku melakukan jalan alternatif,” ucap pria itu menatap Grisell lekat-lekat. Wanita itu menelan ludahnya seperti ia sedang memakan kue kering yang tidak ia kunyah terlebih dahulu. Ia butuh udara. “Apa kau baik-baik saja, Miss Parnell?”
            “Aku butuh udara, Mr. Kneevet,” ucap Grisell mulai kesulitan bernafas.
            “Biar kutemani,” tukas pria itu cepat-cepat. Isaac menarik tangan Grisell pergi keluar dari lantai dansa. Mereka melewati beberapa orang menuju pintu taman depan. Mr. Phee yang sedang tidur di dekat pintu utama terbangun mendengar suara hentakan kaki terburu-buru. Saat melihat Grisell yang melangkah, Mr. Phee segera pergi dari tempat itu. Sampai kapan pun Mr. Phee akan membenci Grisell karena wanita itu membuat Hope lebih dekat dengan Grisell dibanding Mr. Phee.
            Bukannya berhenti di teras depan, Grisell justru melangkah turun ke jalur dimana kereta kuda berhenti di sana. Wajahnya diterpa angin malam. Ia menarik nafas dalam-dalam, merasakan udara memenuhi paru-parunya lalu menghelanya pelan-pelan. Isaac mengelus pundaknya. Seharusnya Eunice ada di belakangnya agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Terlebih lagi mereka hanya berdua di halaman depan. Sekalipun ada orang, mereka tidak akan menyadari keberadaan mereka berdua.
            Setelah menarik nafas beberapa kali, akhirnya Grisell dapat bernafas dengan normal.
            “Lebih baik?” Tanya Isaac perhatian.
            “Ya, terima kasih,” ucap Grisell. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi raut wajah meminta maaf pada Isaac. “Maafkan aku menyeretmu sampai keluar. Aku tidak bermaksud merepotkanmu,”
            “Tidak apa-apa,” kata Isaac bersungguh-sungguh. Grisell menunduk, menatap tanah yang dipijakinya. “Kau butuh sapu tangan?” Tapi pria itu sudah mengeluarkan sapu tangannya. Grisell menerimanya malu-malu, tapi ia tidak segera memakainya. Ia mendongak, memerhatikan pria itu. Cravat pria itu sudah lepas, sekarang dua kancing teratasnya terbuka.
            “Kau kepanasan?”
            “Ya, aku heran mengapa sedikit sekali orang berada di luar rumah,” komentar Isaac menarik-narik kerah kemejanya. Tubuh Grisell menegang. Sapu tangan yang digenggamnya jatuh begitu saja saat ia melihat luka itu. Luka yang begitu Grisell kenang. Luka yang sering Grisell kecup dan ia berharap luka itu hilang di leher itu. Grisell merasa dunia berputar di sekelilingnya. Lehernya tercekat.
            Nathaniel?” Ucapnya lirih. Matanya seperti tertusuk-tusuk hingga air mata mengumpul di pelupuk matanya. “Kau di sini,”
            Pria itu akhirnya tersenyum. Demi Tuhan itu adalah senyum yang sering diberikan Nathaniel sebelum pria itu pergi meninggalkannya selama bertahun-tahun. “Ya, aku di sini. Aku mencarimu, Sayang,”
            “Tapi kau tidak pernah kembali,” bisik Grisell tak percaya. Tangan Isaac terangkat, jari-jarinya yang besar mengelus pipi Grisell. “Sudah lima tahun aku menunggu tapi—“
            “Ssh, aku di sini,” ucap Isaac berusaha menenangkannya. “Jangan menangis, Manis. Aku benci melihatmu sedih,”
            “Tapi aku sudah menunggu dan kau tidak pernah kembali. Siapa kau sebenarnya?”            “Pria yang mencarimu selama beberapa minggu terakhir ini. Sudah kukatakan padamu, Manis, aku akan kembali padamu. Kau sangat tidak sabar,”
            “Setiap orang punya batas kesabaran, Nathaniel. Kenapa kau baru kembali sekarang? Kenapa di saat aku telah mencintai orang lain?” Tangan Grisell menyentuh pergelangan tangan Isaac. Pria itu menarik nafas tajam. Dua alisnya bertaut tak suka. Siapa pun yang melihatnya tahu bahwa pria itu marah.
            “Kau mencintai orang lain?” Tanyanya kasar. “Tapi aku mencintaimu, Grisell. Aku bekerja keras dan memupuk kekayaan agar kita bisa membangun rumah tangga. Kau tidak mencintai pria itu. Saat kudengar kau tinggal bersama Lord Moore, aku marah sekali. Dia bajingan tak tahu diri. Kau tidak mencintainya, Grisell,” ucap pria itu yakin. Grisell tidak yakin siapa yang sedang ia hadapi. Tapi ia ingin mengelus pipinya, memberitahu padanya bahwa semuanya telah berakhir.
            “Tapi kau terlambat,” bisik Grisell.
            “Tidak ada kata terlambat untukku, apa kau mengerti? Sekarang, ayo kita pergi ke Paris dan tinggalkan para bajingan omong kosong itu,” ucap Isaac membujuk.
            “Aku tidak bisa,” ucap Grisell. Isaac terperangah atas jawaban itu. Ia tidak mengatakan apa pun—yang dimana itu sangat menyiksa Grisell. Ia tidak dapat menahannya lagi. Air matanya sudah berkumpul di pelupuk matanya, pandangannya kabur namun ia dapat melihat Isaac mengangguk pada seseorang di belakang Grisell. Dalam sekejap, wajah Grisell tersekap oleh satu sapu tangan.
            “Seperti yang kubilang, ‘kecuali jika aku melakukan jalan alternatif’,” ucap Isaac tersenyum. Grisell sempat memberontak, namun dekapan pada wajahnya membuatnya tak dapat bernafas dan semakin lama kegelapan menjemputnya. Terakhir yang  ia dengar adalah suara seorang wanita.
            Ia membutuhkan Lord Moore.
            Sekarang.

1 komentar:

  1. lanjutin donk ceritanyaa penasaran dg kelanjutannya

    BalasHapus