Kamis, 15 Agustus 2013

Kidnapped Bab 2

***

            Justin memegang tanganku sepanjang kami melewati hutan seberang. Hutannya, hutan Kerajaan Kidrauhl. Entah ia akan membawa kami kemana, yang jelas aku telah memberitahu padanya untuk tidak berburu manusia. Karena aku tidak ingin menggigit leher manusia, aku tidak terbiasa. Justin tidak banyak bicara, ia hanya bernafas dan berjalan. Sungguh membosankan. Ia memberikanku sejenis sunblock padaku agar aku tidak cepat terbakar oleh panas matahari. Itu adalah pemikiran yang cerdas menurutku. Well, ia mengajakku keluar jam 3 sore, jadi aku tentu tidak akan cepat terbakar karena matahari tidak berada di atas langit. Kami berjalan, layaknya seorang manusia.
            Menurutku, Justin beruntung karena ia tidak perlu memakai lensa kontak mata sepertiku. Ia memiliki warna mata seperti warna mata manusia. Mungkin hanya pupil matanya yang tidak berbentuk bulat sempurna seperti manusia. Matanya terlihat lebih seperti mata kucing. Oh, harimau menurutku. Benar apa yang dikatakan Louis padaku kemarin, hutan di sini terlihat lebih menyegarkan dibanding hutanku. Tidak banyak dedaunan yang gugur dari tangkainya.
            “Apa saja yang kauketahui tentang Kerajaan Kidrauhl?” Justin bertanya, akhirnya. Suaranya enak didengar, tapi ia tidak ingin memperdengarkan suaranya untukku. Aku mengangkat kedua bahuku. Ibuku tidak menjawab pertanyaanku tentang Kerajaan Kidrauhl. Ia pergi dari hadapanku, keluar dan mencari kesibukan. Ia bahkan tidak tahu kalau sekarang aku berada di sini.
            “Vampire yang memunculkan Kerajaan Kidrauhl? Vampire pertama di Kerajaan Kidrauhl? Tidak banyak yang kuketahui. Tapi, kakakmu bilang daerah hutanmu berbahaya. Apa itu ada hubungannya dengan Kerajaan Kidrauhl-mu?” aku bertanya sambil mataku menatap pada tanganku yang digenggam erat olehnya. Kudengar ia terkesiap lalu mengembuskan nafasnya tenang.
            “Tidak. Tidak ada,” gumam Justin. “Di sini banyak manusia yang berkeliaran karena hutan ini tidak memiliki tanda peringatan seperti tanda peringatan yang ada di depan hutanmu itu. Tapi dengan banyaknya manusia bodoh itu masuk ke sini, aku semakin memiliki makanan yang lezat,” jelasnya. Justin tidak sedingin yang kukira. Atau mungkin ia berpikir karena kita baru saja bertemu? Kita belum mengenal satu sama lain. Aku hanya tahu dia adalah Justin Samuel Bieber, 100 tahun dan dia dari Kerajaan Kidrauhl.
            “Apa kau adalah anak Raja?”
            “Ya,” ia menjawabnya dengan singkat. “Tapi aku tidak sempat untuk melihat Ayah atau Ibuku,”
            “Maafkan aku tentang itu,” gumamku menundukan kepala. Chantal bodoh! Aku mengutuki diriku sendiri. Lalu kudengar Justin terkekeh pelan dan kembali mengembuskan nafasnya. Aku mendongak.
            “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa, di sana,” jari telunjuknya menunjuk pada sebuah rumah kayu yang cukup besar. Dari luar aku dapat melihat lampu kerlap-kerlip dari dalam. Dan suara teriakan-teriakan kesenangan dari dalam sana. Apa itu adalah bar? Louis pernah menceritakan padaku tentang Bar milik manusia. Dia bilang, minumannya tidak sama sekali enak. Apa vampire juga memiliki bar khusus? Oh, inilah akibatnya aku tidak keluar dari kastil selama 80 tahun. Berkutat dengan Fluppy, anjing vampire-ku, lalu berlatih bela diri. Ibu memberitahu padaku bahwa sebentar lagi akan ada bahaya yang menyerangku. Dan aku sendiri yang harus memperjuangkan kehidupanku. Hebat bukan?
            Kami telah menginjakkan kaki di atas rumah kayu itu lalu Justin membukakan pintunya dengan cepat. Musik yang tadinya terputar di dalam tiba-tiba saja berhenti saat Justin masuk ke dalam bersama denganku.
            “Pangeran datang!” teriak salah seorang di dalam rumah ini. Lagunya kembali terputar dan salah satu vampire seksi menghampiri kami dengan sisa darah di sudut bibirnya. Ia tersenyum manis pada Justin. Vampire itu cantik, hanya saja dia pucat dan ..lebih terlihat seperti mayat. Aku tidak menyukainya.
            “Lewat sini,” gumamnya mempersilahkan kami masuk lebih dalam lagi. Begitu banyak tubuh vampire yang berliuk-liuk menari bagaikan lintah yang diberi garam, di lantai dansa. Ini sederhana, tapi bagiku ini mewah. Pelayan itu membawa kami ke sebuah sofa berbentuk bulan sabit berwarna merah. Justin menarik tanganku lalu mempersilahkanku masuk lebih dulu ke dalam. Aku duduk dan merasakan ..sofa yang empuk.
            “Satu botol darah perawan, tolong?” pesan Justin menunjukkan satu jarinya. Si vampire seksi bagaikan mayat itu menganggukan kepalanya, memberikan kedipan genit pada Justin lalu ia berlalu pergi. Ish, dia tidak tahu malu. Memangnya aku terlihat seperti lelaki sekarang? Sudah jelas-jelas Justin sedang berjalan bersama dengan seorang gadis. Justin duduk di sebelahku lalu tersenyum.
            “Jadi, apa kesukaanmu dan apa yang tidak kausukai?” Justin bertanya, kali ini senyumnya lebih lebar. Manusia apa yang sedang merasukinya? Ini sungguh menyeramkan.
            “Aku suka berjalan-jalan. Kau tahulah, berpetualang. Dan aku tidak suka yang namanya rahasia,” ujarku menempatkan kedua tanganku di atas sofa. Mataku melihat pada vampire-vampire yang menari. Lalu, ke sudut tempat ini, dua vampire sedang bercumbu ala vampire. Mencium-cium leher satu sama lain. Apa tidak ada pemandangan yang lebih menjijikan dibanding itu?
            “Sebotol darah perawan dengan dua gelas kecil. Selamat menikmati,” seru pelayan tadi kembali dengan sebotol ..darah perawan dengan dua gelas kecil yang ia taruh di atas meja di hadapan kami lalu ia memutar tubuhnya, meninggalkan kami.
            “Kau belum pernah meminum darah manusia?”
            “Tidak, tidak sekalipun. Ibuku melarangnya, ingat?” tanyaku. “Aku juga sedikit takut meminum darah manusia. Karena rasanya aku mengkhianati hubunganku dengan para manusia di luar sana. Aku berteman dengan mereka, kau tahu,”
            “Jadi, kau bangga dengan itu?” tanyanya menuangkan darah perawan itu ke dalam gelas kecil. Tapi hanya satu gelas yang ia tuangkan darah. Lalu ia meneguknya sampai habis. “Kau ingin mencobanya?”
            “Bukankah itu alasan mengapa aku ikut denganmu?” Ia terkekeh dengan ucapanku lalu kembali menuangkan darah perawan itu ke dalam gelas. Ia menarik pinggangku agar duduk lebih dekat dengannya. Satu jarinya dari tangan yang lain mengangkat daguku sehingga sekarang aku mendongak.
            “Kau tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan,” gumamnya meminum darah itu kembali lalu ia menarik kepalaku dan bibir kami bersentuh. Mulutnya membuka mulutku sehingga sekarang darah yang berada di mulutnya berpindah ke mulutku. Aku meneguknya dengan tenang ..oh ya ampun, rasanya sungguh manis. Aku menyukainya. Kurasakan darah itu mengalir dari sudut bibirku dan Justin dengan cekatan menjilatnya hingga bersih. Ia memundurkan kepalanya ke belakang lalu tersenyum puas padaku. Itu adalah ciuman pertama bagiku.
            “Kau menikmatinya?” tanyanya. Kuanggukan kepalaku, malu-malu. Permanusia! Tapi aku memang menyukainya!
            “Lagi?”
            “Ya, kumohon,” bisikku. Justin kembali menuangkan darah itu lalu tangannya yang lain menarik rambut yang kuikat menjadi satu itu ke belakang. Kembali ia meminum darah itu lalu membuka mulutku dengan mulutnya. Ia mendesah pelan, begitu juga denganku. Lidahnya membelai lidahku, seakan-akan ia tidak ingin darah yang telah berada di mulutku tertelan begitu saja. Dan kudengar dari sini ia meneguk darah yang ia dapat dari mulutku. Ia tidak hanya diam di sana, sekarang ia menarik pinggangku semakin dekat dengannya. Tangannya yang memegang gelas kecil itu menaruh gelasnya ke atas meja langsung saja ia menangkup pipiku sehingga mulut kami semakin menekan satu sama lain. Kurasakan gigi taringnya yang menyentuh sudut bibirku.
            Ia menarik rambutku ke belakang, itu membuatku mendesah hebat. Entah ada sesuatu yang melanda tubuhku, rasanya sangat asing. Namun aku sungguh menikmatinya. Aku menginginkan lebih dari ini. Fokus, Chantal! Tidak ada hubungan intim! Teriakku pada diriku sendiri. Saat aku bergumul dengan pikiranku, tiba-tiba saja Justin memisahkan bibirnya dengan bibirku.
            “Kau pencium yang ulung,” pujinya. Oh, ya ampun.
            “Ini adalah ciuman pertamaku,” bisikku malu-malu. Ia menarik daguku ke atas lalu kembali ia menjilat sudut bibirku yang menyisakan sedikit darah di sana.
            “Aku tahu. Aku bisa membaca pikiranmu, kautahu,”
            “Oh, wow. Itu berarti aku tidak boleh banyak berpikir jika sedang berada di sebelahmu,”
            “Kau suka dengan darah manusia sekarang?” ia bertanya, mengalihkan topik pembicaraan.
            “Aku suka caramu memberikan darah itu padaku,” godaku yang membuatnya tersenyum. Ya ampun, senyum malu-malu dari Justin Samuel Bieber. Perutku seperti dipenuhi oleh cacing-cacing sekarang.
            “Jadi, kau suka berpetualang? Kau ingin melihat dunia manusia yang sebenarnya denganku besok? Kita bisa membolos,” ajak Justin padaku. Apa aku akan ikut berpetualang dengannya? Aku kurang yakin. Mungkin? Ya, tentu saja.
            “Aku harus meminta izin pada Ibuku,” bisikku. Justin tertawa hingga kepalanya terdongak ke belakang lalu ia kembali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Kau sudah besar. Kau tidak membutuhkan Ibumu lagi. Kau yang pilih dan menjalankannya,”
            “Benarkah? Kau bilang aku masih terlihat seperti anak kecil,”
            “Tidak sekarang, kau telah kucium. Artinya kau sudah besar, kau sudah dapat merasakan bibir vampire tampan sepertiku. Ayolah, itu akan sangat menyenangkan,”
            “Baiklah.” Aku pasrah.

***

            Justin mengantarkanku sampai pada mulut hutan. Ia tidak ikut masuk ke dalam. Saat aku ingin mendramatisir perpisahan kami, aku membalikkan kepalaku ke belakang untuk melihatnya, namun ia tidak tersenyum atau apa pun. Ia menatapku dengan tatapan dingin, matanya menyala setelah matahari terbenam meninggalkan duniaku. Apa yang Justin sembunyikan dariku? Apa dia dapat mendengarkan apa yang kupikirkan tadi? Aku selalu bertanya-tanya setelah ia mengecup bibirku, apa yang ia inginkan dariku? Kupikir ia kesal saat aku mencaritahu tentang Kerajaan Kidrauhl. Setelah itu tiba-tiba saja ia menawarkanku untuk pergi ke sebuah bar. Apa dia memang labil? Entahlah. Mungkin ia telah membaca pikiran kakaknya sehingga dia tahu apa yang harus ia lakukan padaku. Aku bergidik setelah aku baru saja masuk ke dalam kastil.
            Wush! Ibuku sekarang telah berada di hadapanku. Ia dengan pakaian berwarna hitam –ia selalu berpakaian kuno—dan mahkota emas ditempatkan di kepalanya. Ia menatapku tanpa ekspresi. Sekarang Ibuku sedang berada dalam mode Kristen Stewart. Yeah, biasanya aku menonton televisi tentang manusia. Dan yah, memang, jika ada film vampire, wujudku sungguh jelek dalam televisi. Tapi sekarang kita sedang berada dalam zaman Zombie.
            “Kau dari mana saja? Louis dari tadi mencarimu, jangan bilang kau pergi ke hutan seberang sana,” tanya Ibuku. Aku mengangkat kedua bahuku.
            “Ibu tahulah, aku hanya sekedar berjalan-jalan di sana. Tidak ada apa-apa,”
            “Kau baru saja meminum darah manusia! Darah siapa yang baru saja kau hisap? Apa kau kehilangan kesadaranmu?”
            “Ibu, tenanglah. Aku diajak oleh seseorang untuk sedikit meneguk darah manusia. Aku tidak menggigit siapa pun di sana. Sekarang, yang paling terpenting adalah aku sudah berada di sini. Masih ada di hadapanmu dan aku merasa lebih baik daripada biasanya,”
            “Siapa? Kau pergi dengan siapa?”
            “Justin Samuel Bieber?” jawabku dengan nada bertanya, matanya melotot. “Apa? Apa yang salah? Ibu ingin bilang kalau dia berbahaya? Dia tidak berbahaya sama sekali bagiku,” seruku melompat ke atas balkon. Ibu ikut terbang bersamaku lalu dia telah berada di belakangku. Aku membuka pintu kamarku terlebih dahulu lalu masuk ke dalam. Fluppy tampaknya lebih senang berada di dalam kamar padahal sekarang sudah malam. Ia bisa bermain di luar sekarang.
            “Kau sungguh gila! Apa kau sadar dengan apa yang kaulakukan tadi? Ibu tak percaya kau pergi bersama dengannya,”
            “Aku tentu saja tidak tahu apa yang kaupikirkan tentang apa yang kulakukan karena aku tidak tahu apa pun tentang Kerajaan Kidrauhl! Ceritakan padaku agar semuanya terlihat jelas bagiku,” ujarku membuka jaket hitam yang kupakai lalu melemparkannya ke atas tempat tidur yang memiliki empat tiang dengan sprei berwarna merah darah.
            “Sebelum Ibu menceritakannya. Apa yang kaulakukan dengannya?”
            Kubalikkan tubuhku untuk melihat Ibuku. “Aku hanya pergi ke bar, dia memesankan aku segelas darah manusia lalu ia menciumku,”
            “Kau berciuman dengannya? Kau sungguh kehilangan kesadaranmu! Dia berbahaya!” seru Ibuku. Ia berjalan bagaikan ia tidak memiliki kaki, melewati diriku lalu ia mengitari sekitar kamarku. Biasanya, jika Ibuku sedang berkelakukan seperti ini, ia sedang panik. Sebenarnya, apa alasannya panik seperti ini? Mengapa Kerajaan Kidrauhl berbahaya? Bisa-bisa aku menjadi vampire gila yang akan berubah menjadi zombie! Permanusia, aku benci keadaan ini!
            “Sebenarnya, apa yang membuatnya terlihat begitu berbahaya?”
            Ibuku menghentikan langkahannya tepat di depanku. Lalu ia mengembuskan nafasnya. “Ayahmu mati di tangan Raja Kerajaan Kidrauhl! Apa itu sudah dapat menjawab pertanyaanmu?” tanya Ibuku, berteriak –meski tak terdengar seperti berteriak untuk ukuran sepertiku. Ibuku orang yang lemah-lembut. Ia tak sanggup untuk berteriak. Nafasku tercekat sesaat. Sebisa mungkin aku mencari udara untuk dapat kuhirup. Baiklah,  secara teknis Ibuku memang tidak berbohong. Ia menceritakan padaku bahwa dulu Ayah pernah bertarung dengan Kerajaan lain. Namun ia tidak pernah menceritakan tentang Kerajaan yang Ayah lawan.
            Kakiku melemas, aku terduduk di atas tempat tidur. “Aku ..mengapa kau tidak menceritakannya sejak dulu?”
            “Tapi, Raja dan Ratu Kerajaan Kidrauhl mati setelah pertarungan itu, namun satu hal yang pasti Chantal. Bukan Kerajaan Fourie yang membunuh Raja dan Ratu Kidrauhl,”
            “Lalu, apa hubungannya dengan Justin? Dia baik-baik saja,”
            “Kita tidak pernah tahu Chantal apa yang akan ia lakukan padamu. Kau harus berhati-hati. Bagaimana pun juga, Kerajaan kita pernah bertarung dengan Kerajaan mereka. Ia memiliki pasukan yang lebih terlatih dan lebih banyak dibanding pasukan kita sayang. Kau harus mengerti. Jauhi dia mulai dari sekarang,” Ibuku menegaskan penuh dengan kelembutan.
            “Apa kau bisa menceritakan yang lebih spesifik? Aku masih tidak mengerti,” gumamku menatap Fluppy yang berlari-lari lalu ia lari keluar dari kamarku. Aku masih shock. Ayahku mati di tangan Raja Kidrauhl. Tarik nafasmu, Chantal! Oh, ciuman tadi membuat hatiku sakit. Apa Justin memang menginginkan sesuatu dariku? Apa dia tahu kalau aku adalah anak sulung dari Kerajaan Fourie? Bisa saja ia membunuhku.
            Ibuku berjalan cepat pada mulut pintu menuju balkon. Ia menatap langit malam yang dipenuhi bintang lalu ia menundukan kepalanya. Sekarang keheningan membentang di antara kami dan hanya ada satu-satu jalan untuk menghancurkan keheningan ini. Suara Ibu.
            “Ayahmu,” ia berbisik. “Ia berpikir bahwa Kerajaan Fourie tidak sekuat Kerajaan Kidrauhl. Ia ingin memiliki kuasa yang lebih besar dalam dunia vampire. Sampai suatu hari, ia memutuskan untuk merebut Kerajaan Kidrauhl. Ibu tidak bisa ikut bertarung melawan pasukan Kerajaan Kidrauhl karena Ibu sedang mengandung dirimu. Ibu tidak tahu apa yang terjadi di luar sana terhadap Ayahmu. Satu-satunya yang tersisa dari pasukan Fourie datang memberi kabar padaku bahwa Ayahmu mati terbunuh oleh Raja Kidrauhl. Tapi apa yang bisa Ibu katakan, Chantal? Ibu hanya dapat termenung dan memikirkan apa yang akan terjadi dengan diriku dan dirimu,”
            Air mataku mulai membendung. “Lalu para pasukan dari Kidrauhl datang. Ingin memegang Kerajaan ini dari tanganku. Karena aku adalah Ratu Fourie. Ratu Kidrauhl mendatangiku, ia mengernyitkan keningnya padaku dengan air mata yang mengalir. Aku tak dapat melakukan apa pun karena aku begitu takut. Jika aku terbunuh, maka aku tidak akan dapat melihat anak pertamaku. Tapi tidak, ia menyuruhku untuk bersembunyi di kamar gelapku. Lalu ia keluar dan menghilang. Saat aku keluar dari kamarku, aku melihat ..Raja dan Ratu Kidrauhl telah terbunuh. Tapi, yang membunuhnya bukanlah salah satu pasukan dari Fourie,”
            “Maafkan aku,” bisikku. Aku akan membatalkan jadwal bolosku dengan Justin. Justin memang berbahaya. Dan aku sakit hati karena Raja Kidrauhl telah membunuh Ayahku. Aku menyeka hidungku. Sungguh aneh setelah untuk yang kesekian kalinya aku menyadari bahwa aku adalah vampire yang menangis. Setan menangis, seperti tidak masuk akal.
            “Jauhi dia, Chantal. Ibu tidak ingin sesuatu terjadi padamu karena jika ada sesuatu terjadi padamu, Ibu tidak dapat melakukan apa pun. Karena Ibu ..oh, Ibu tidak dapat memberitahumu sayang. Ini semua salah Ibu telah melakukan ini padamu,”
            “Mengapa Ibu sepertinya tidak bisa menghentikan teka-teki yang Ibu buat? Aku lelah hidup sebagai gadis yang tidak tahu menahu tentang vampire. Apa yang Ibu lakukan?”
            “Saat Ibu melahirkanmu, kau mati. Kau tidak hidup, kau tidak menangis atau bernafas. Ibu berpikir, mengapa ini harus terjadi padaku? Lalu Ibu memberikan seluruh kekuatan Ibu untukmu, menghidupkanmu kembali agar Ibu dapat melihat senyuman manis dari anak pertamaku. Karena sudah tidak ada lagi keluarga vampire bersama denganku. Hanya kau, satu-satunya anakku. Maka dari itu, Ibu tidak dapat melakukan apa pun sayang untukmu jika kau diserang. Ibu tidak memiliki kekuatan apa pun karena segala kekuatan yang Ibu memiliki telah berada dalam tubuhmu sekarang. Kau pemberani, Ibu sudah tidak dapat melakukan apa pun sekarang. Ibu terlalu sayang hingga Ibu harus membiarkanmu bertarung dengan mereka yang akan menyerangmu,”

            “Aku seharusnya mati dan Ibu tidak menceritakannya sejak dulu. Betapa hebatnya itu Ibu,” dengusku sedikit kesal sekaligus terharu. “Oh, permanusia! Aku tidak akan mendekati Justin lagi jika itu yang Ibu inginkan.” ujarku bangkit dari tempat tidur untuk memandikan tubuhku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar