Jumat, 26 Juli 2013

Rolling the Camera Bab 2



****

*Alexis Bledel*

            Aku menarik selimutku untuk menutup tubuhku. Tertidur di atas kasur yang benar-benar empuk adalah jalan keluar untuk melepaskan segala kelelahan pagi ini. Aku harus bergadang hanya untuk mengambil gambar dengan Kate –Blake-. Blake sering sekali tertawa. Justin saat di kantor selalu berbicara kotor saat ia lupa kata-kata yang harus ia hafal. Itu membuat frustrasi. Sekarang, aku berbaring  di atas mobilku. Kami semua tidur di dalam mobil kami masing-masing. Di parkiran gedung Christian Grey. Matahari memang belum muncul tapi jam sudah menunjukan pukul 4 pagi. Bayangkan, 4 pagi? Mati saja.
            Saat aku ingin memejamkan mataku, tiba-tiba saja ada yang mengetuk jendela mobilku. Dengan malas aku membuka selimutku dan menarik tubuhku agar bangkit, terduduk. Kulihat Justin yang mengetuk-ngetuk jendelaku dan kedua tangannya menempel di jendelaku, ia ingin melihatku. Aku membuka jendelaku sehingga ia sedikit menjauhkan wajahnya dari jendela.
            “Ada apa?” tanyaku dengan suara yang benar-benar parau.
            “Apa kau sudah tidur?”
            “Apa aku sedang berbicara? Astaga, Justin. Kau tidak lihat sekarang apa yang kulakukan?” tanyaku dengan malas. Mataku benar-benar sudah mengantuk sekali. Justin memberikan pandangan Aku Tidak Kelelahan. Pamer.
            “Mengapa kau begitu sinis padaku?” tanyanya protes. Sungguh, aku tidak sedang ingin membicarakan ini.
            “Oooh, astaga Mr. Grey. Aku sungguh minta maaf jika tanganmu berkedut sekarang karena kesinisanku. Tapi aku di sini, di dalam mobilku sedang berusaha untuk menenangkan tubuhku yang sebentar lagi hancur,”
            “Ini baru satu hari Miss Steele,” ia mulai bergabung denganku. Tiba-tiba tangannya masuk ke dalam mobilku melalui kaca jendela yang terbuka dan membuka kunci pintu mobilku lalu membuka pintu mobilku dan masuk. Itu terjadi begitu cepat. BRAK! Ia menutup pintunya dan menutup jendela.
            Aku menjauh darinya sambil menarik selimutku.
            “Miss Steele, aku ingin tidur di mobilku. Tapi kurasa mobilku tidak senyaman mobilmu. Maukah kau berbagi denganku wahai Miss Steele yang cantik jelita?” tanya Justin membungkukan tubuhnya padaku. Kuanggukan kepalaku dengan wajah penuh ketakutan, kepalanya mendongak dan ia memberikanku senyuman miring.
            “Tenang Miss Steele. Aku tidak memperkosamu. Aku tidak tertarik padamu,” ujarnya menarik selimutku dengan cepat.
            “Apa?” aku protes, “ini selimutku!” aku merebutnya.
            “Ayo kita bagi dua Miss Steele,” ujarnya, “kita bisa latihan adegan Christian Grey bersama Anastasia Steele di atas ranjang. Bagaimana? Tertarik?” tanyanya menggodaku, senyumannya benar-benar menggodaku. Aku menelan ludahku. Apa dia serius?

****

            “Anggap saja aku menyukaimu, okay?” ujar Justin yang sudah berada di atas tubuhku. Apa dia benar-benar serius dengan apa yang ia lakukan sekarang? Nafasku tak beraturan saat melihat rambutnya berjatuhan seperti Christian Grey dalam imajinasiku. Matanya berwarna abu-abu pekat sekarang. Wajahnya tidak begitu terang karena di dalam mobilku gelap, hanya diterangi oleh lampu-lampu di sekitar parkiran. Tanganku menegang di samping kedua sisi tubuhku dan perutku tidak dapat bekerjasama. Bukan. Bukan sakit perut, tapi lebih tepatnya aku terangsang melihat wajah tampan Justin sekarang. Justin sudah mengangkangiku di bagian perut dan kedua tangannya sudah berada di samping wajahku.
            “Apa kau biseks?” tanyaku berhati-hati. Takut-takut ia akan marah padaku. Maksudku, hey! Siapa yang tidak ingin dikangkangi oleh Justin Bieber? Semua wanita pasti mau –kecuali para pembencinya. Aku ini wanita dan pastinya aku tertarik pada Justin. Tapi kesadaranku sedikit pulih saat aku bertanya, apakah dia biseks? Dia pernah mencium lelaki dan sekarang ia berusaha mencium bibirku, bekas ciuman yang pernah ia berikan pada Theo. Astaga! Menjijikan sekali. Omong-omong, Theo orang yang sangat ramah dan baik hati. Pantas saja Justin menyukainya. Aku saja menyukai kepribadiannya yang ramah.
            Mata Justin menatapku dengan dingin. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat ini. Dan aku sangat yakin, ia tersinggung akan pertanyaanku. Aku tidak tahu sejarah kehidupannya seperti apa! Siapa tahu sebelumnya ia pernah berpacaran dengan wanita dan berubah menjadi gay karena sesuatu, benar bukan? Siapa tahu.
            “Tidak, Miss Steele. Aku tidak,” ujarnya seperti tadi sore. Astaga, ia mulai berakting sekarang. “Tapi mungkin, kau akan menjadi wanita pertamaku,” saat kata-kata itu meluncur dari muncul dari mulutnya, ia tidak membiarkan aku berbicara. Bibirnya sudah menempel pada bibirku. Tidak, aku tidak memejamkan mata. Aku benar-benar terkejut. Bibirnya begitu …lembut. Kali ini.
            Bibir yang sudah pernah mencium bibirku sebelumnya. Dan sekarang aku merasakannya sekali lagi. Dengan sensasi yang berbeda. Semuanya berujung pada pangkal pahaku yang mulai berkedut dan basah. Siku kirinya mulai berada menekan kursi dan tangannya yang satu lagi sudah berada di pipiku. Kubiarkan mulutku terbuka agar aku bisa merasakan lidahnya yang hangat itu.
            “Ya, benar seperti itu sayang,” ujarnya di sela-sela ciuman kami dan memagut bibir bawahku dengan lembut.  Kedua tanganku mulai berlari menuju kepala belakang Justin, Christian Grey-ku. Astaga, aku benar-benar menyukai ciuman ini. Kuremas rambut Justin dengan lembut. Tangan Justin mulai mengangkat kepalaku agar ia dapat menekan ciuman ini lebih dalam. Salah satu di antara kami tidak bernafas. Itu akan merusak momen indah ini.
            Tapi dari perutku. Dari perutku aku dapat merasakan ereksi Justin yang menekan perutku. Dia terangsang karena aku. Justin Bieber terangsang karena itu dan aku begitu senang. Kutekan perutku ke atas agar bisa lebih merasakan ereksinya. Wow! Besar sekali, aku bisa merasakan itu.
             “Miss Steele,” ia berujar, “tetap diam,”
            “Ah!”
            Aku mendesah saat Justin mulai menggigiti rahangku sehingga aku mendongakan kepalaku. Lidahnya mulai menyapu-nyapu leherku dengan lembut. Hangat sekali. Tubuhku bergetar di bawahnya. Sensasi ini sangat menyenangkan dan aku menginginkan lebih. Semuanya tertuju pada pangkal pahaku yang kurasa sudah sangat basah sekali. Di saat tangannya yang satu mengangkat kepalaku yang sedang mendongak, tangannya yang satunya lagi sudah mengelus perutku. Tepat di atas seksku. Mengapa rasanya ia begitu ahli dalam merangsang perempuan? Padahal aku tahu ia seorang yang gay. Tapi sekarang aku tidak peduli!
            “Miss Steele,” suaranya terdengar parau. Apa dia bergairah karena aku? Tangannya yang sudah berada di atas perutku itu mulai memasuki celah celana tidur yang kupakai. Kakiku menegang dan sekujur tubuhku menegang begitu saja.
            “Kau basah untukku,” bisiknya tepat di depan dadaku yang masih berlapiskan dengan pakaian tidurku. Tangannya sudah benar-benar berada pada organ seksku yang paling sensitive. Jari tengahnya mulai mengoyakan seksku dengan cepat. Membuat mengerang. Mulutnya menangkup mulutku lagi agar eranganku teredam.
            “Tetap diam,” bisiknya lagi.
            “Berhenti Justin,” ujarku. Terjemahan: Jangan berhenti, Justin!
            “Baiklah,” balasnya dengan cepat. Sialan! Apa dia benar-benar baru saja mengatakan ‘baiklah’. Padahal itu hanya untuk merangsang. Aku harus tetap berakting agar ia tidak melihat kekecewaanku. Semua sensasi yang ia berikan menghilang secara bersamaan saat jarinya benar-benar keluar dari celana dalamku. Sialan! Astaga, aku menginginkannya.
            “Frustrasi, Miss Steele?”
            “Apa kita masih dalam akting, Mr. Grey?”
            “Sudah tidak, setelah kau berkata seperti itu,” ujar Justin dengan nada yang biasa ia pakai. Nada di dunia nyatanya. Kemudian ia menarik selimut yang terjatuh di atas lantai mobil dan mulai menggeser tubuhku agar berhimpit dengan kursi. Dan ia mulai berbaring di sebelahku, tertidur. Meninggalkan diriku yang benar-benar menggantung menginginkan sebuah pelepasan. Justin sialan!

***

            “Terima kasih banyak Mr. Grey karena telah meluangkan waktu untuk mengambil foto ini,” ujar Blake yang sebagai Kate Kavanagh kepada Justin yang memakai pakaian yang begitu modis. Dia tampak begitu tampan hari ini. Aku masih memperdalam peranku sebagai Anastasia Steele yang pendiam. Aku diam sebenarnya bukan memerhatikan mereka meski aku tahu aku harus berkonsentrasi. Tapi aku mengingat kejadian tadi pagi bersama Justin di dalam mobil. Ciumannya begitu lembut dan tidak terburu-buru. Latihan. Itu hanya latihan dan aku hanya berusaha untuk menganggapnya menyukaiku. Padahal kenyataannya adalah tidak. Dia tidak menyukaiku.
            “Dan …Cut!” teriak Gavin yang terduduk di bawah payung berwarna hitam untuk menutupinya dari sinar matahari. Ia berpakaian seperti sutradara yang selayaknya, memakai rompi berwarna hitam dengan tulisan di punggung rompi tersebut ‘Director’. Dia sutradara yang hebat. Maksudku, ia memiliki kesabaran yang penuh saat melihat kami berakting. Meski dari tadi Kate salah bicara dan selalu berbicara kotor, begitu juga dengan Justin. Di bagian ini aku tidak banyak berbicara. Nanti, di Club. Kurasa aku harus benar-benar mabuk. Bukan benar-benar mabuk dalam arti yang sebenarnya. Setengah mabuk, mungkin? Agar aku masih bisa berkonsentrasi dengan film ini.
            Kami semua menyebar.
            “Istirahat 10 menit!” teriak Gavin kembali. Semua kru langsung bubar dari tempatnya. Angin mulai menerpa kami di siang ini. Dravin datang menghampiriku, membawa sebuah jaket untuk menghangatkanku.
            “Aktingmu keren sekali. Aku bangga karena kau bekerja untukku,”
            “Untuk semua orang,” ujarku membetulkan kalimatnya. Aku bukan hanya bekerja untuknya, tapi aku bekerja untuk para penonton nanti. Kuambil jaket yang ia pegang dan memakainya pada pundakku tanpa memasukannya ke lenganku.
            Dari taman yang luas ini, aku melihat Theo yang berlari-lari membawakan makan siang untuk Justin. Pacar yang sangat perhatian. Ia memakai celana jins ketat sehingga aku bisa melihat tonjolan di bagian tengah –bawah perutnya. Dan ia juga memakai kaos berwarna hitam dengan rompi berwarna putih. Juga dengan sebuah ..syal yang melingkar di sekitar lehernya. Apa dia serius sedang memakai itu? Astaga. Tangan Theo melambai-lambai padaku ..atau mungkin pada Justin yang berdiri di belakangku.
            “Justin!” teriak Theo, “Alexis!” tambahnya dengan suaranya yang begitu bersemangat. Astaga, dia sangat bersemangat sekali. Aku menyukai lelaki ini karena dia begitu ramah dan baik hati. Apalagi sikapnya yang benar-benar bersahabat. Pasti dia memiliki banyak sekali teman. Ia berlari kecil ke arah kami dan langsung memeluk Justin dengan erat. Aku menatap mereka seperti pasangan yang benar-benar serasi.
            Tapi aku ingin mual saat Justin mengecup bibir Theo dengan penuh rasa sayang. Astaga, bibir itu sudah menyentuh bibirku tadi malam. Bahkan lidahnya. Aku ingin muntah sekarang.
            “Apa kau ingin makan siang bersama kami, Alex?” tanya Theo dengan ramah. Dengan sopan aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak ingin melihat mereka yang akan bermesraan di depanku. Aku lebih baik menghabiskan waktuku bersama dengan Dravin. Waktuku sisa 8 menit lagi untuk memakan makan siangku.
            “Aku harus pergi,” ujarku melengos pergi dari hadapan kalian.


***

*Justin Bieber POV*

            “Kupikir wanita itu sudah bilang tidak,” ujarku dengan rahang yang menegang saat aku melihat Anastasia –Alexis- diciumi bibirnya oleh Jose. Lidahnya benar-benar masuk ke dalam mulut Ana, membuatku benci melihatnya. Aku menarik tangan Ana dari Jose.
            “Grey?” Jose terkejut atas kedatanganku dan Ana menatap pada Jose dengan wajah gelisah, aku menatap Jose dengan tajam. Tiba-tiba Ana membungkukan tubuhnya dan muntah tepat di depan Jose yang langsung melompat mundur. Aku menarik rambut Ana dengan lembut dan menariknya untuk keluar dari Club ini.
            “Jika kau munta lagi, lakukan di sini. Aku memegangmu,” ujarku memegang satu lengannya dan tanganku yang satunya lagi memegang rambutnya. Astaga, Alexis pintar sekali akting. Ia benar-benar muntah di depanku. Apa dia benar-benar mabuk saat akting? Karena itu adalah perbuatan yang sangat salah saat akting. Jika dia mabuk dan masih bisa berkonsentrasi dalam pengambilan gambar, berarti aku harus mengapresiasikannya. Ana terus mengeluarkan muntahan-muntahannya yang begitu banyak. Kemudian dia mengumpat. Kemudian ia berhenti muntah. Tangannya bertumpu pada dinding bata dan bedeng bunga. Aku mengambil sapu tangan yang berada di dalam kantong celana jinsku dan mengelap bibirnya yang kotor karena muntahan itu.
            Kulihat Jose yang melihat kami berdua, aku menatapnya dengan tajam. Lidahnya tadi masuk ke dalam mulut Ana! Mulut yang pernah kucium tadi malam rasanya begitu nikmat. Sialan! Alexis Bledel adalah wanita pertama  yang membuatku mengakui seberapa lembut mulutnya. Padahal aku juga sering mendapatkan adegan ciuman di film-filmku. Tapi kali ini berbeda. Rasanya Alexis benar-benar menciumku dengan penuh perasaan. Apa karena bibirnya mirip dengan bibir Theo yang sering kucium itu? Tapi aku jarang sekali memasukan lidahku ke dalam mulut Theo.
            “Maaf,” gumam Ana dan menatap sapu tangan ia yang genggam dengan tangannya. Aku sangat yakin, pasti dia mengagumi sapu tanganku yang lembut.
            “Apa yang kau  sesalkan Anastasia?”
            “Terutama panggilan teleponku, menjadi mabuk, dan oh seterusnya,” jika kulihat-kulihat, Alexis manis sekali saat ia mabuk, seperti sekarang. Tapi aku harus tetap berkonsentrasi terhadap aktingku sekarang, alur ini harus tetap berjalan.
            “Kita semua berada di sini, mungkin tidak seberapa dramatis, seperti kau,” aku berucap dengan datar, “Ini tentang mengetahui batasanmu, Anastasia. Maksudku, aku orang yang suka mendorong sampai batas, tapi sungguh ini tak ada apa-apanya. Apa kau membuat kebiasaan berperilaku semacam ini?” tanyaku bersorak dalam hati. Aku hafal bagianku! Astaga, aku sangat senang sekali. Tapi aku tetap menjaga tatapan konsentrasiku pada Ana.
            “Tidak. Aku belum pernah mabuk sebelum dan sekarang, aku tidak punya keinginan untuk mengulangnya lagi,”
            “Aku akan mengantarmu pulang,” ujarku dengan cepat.
            “Apa? Tidak, jangan,” tolak Ana dengan cepat. Mengapa wanita ini tampak begitu manis di saat ia sedang memberontak. Alexis, aku menggumam dalam hati. Gadis ini benar-benar menawan.
            “Kau harus ikut denganku, Ana,”
            “Tapi aku harus memberitahu Kate!” Aku mengangguk, menyetujuinya.

            Kemudian kami kembali masuk ke dalam Club dan Ana berjalan, melewati orang-orang yang menggeliat menari-nari tak jelas. Aku bisa menari, tapi bukan di tempat seramai ini. Ana bertanya-tanya di mana Kate. Kurasa Kate sedang bersama Elliot, adikku dalam film ini.
            “Di sana,” ujarku menunjuk Kate yang sedang meliuk-liukan tubuhnya di depan Elliot. Astaga, wajah Kate benar-benar seperti ..pelacur. Sungguh, Blake pintar sekali akting sebagai pelacur atau semacamnya. Elliot akan menjadi lelaki pertama yang akan tidur dengannya jika Elliot tahu kalau Kate perawan.  Aku berteriak pada bartender untuk mengambilkan minuman dingin untuk Ana. Beberapa detik kemudian, bartender muncul dan memberikan satu gelas air putih padaku.
            “Minum,” suruhku memberikan pada Ana, “semuanya!” teriakku mengalahkan suara music yang benar-benar bising. Ana meminumnya hingga habis, kemudian ia menatapku.
            “Ayo, menari denganku,” ajak Ana tiba-tiba. Mataku melebar. Apa?
            “Apa?”
            “Menari denganku,” nada bicaranya seperti memerintah. Aku menganggukan kepalaku dan mengajaknya masuk ke atas lantai dansa. Ana mulai menari di depanku. Gaya bebas, begitu juga denganku. Tersenyum melihatnya karena dia begitu menikmati musik ini. Tangannya mulai merangkul leherku dan tersenyum manis padaku. Astaga, Alexis, aku tidak boleh kehilangan konsentrasi! Tiba-tiba ia terjatuh pada dadaku.
            “Sial,” gumamku.
            “Cut!” teriak Gavin yang membuat music dan yang menari berhenti bergerak atau mengeluarkan suara. Semuanya bertepuk tangan, kecuali aku dan Alexis. Alexis benar-benar pingsan. Astaga.
            “Ada apa?” tanya Gavin mendekatiku yang memegang pinggang Alex agar ia tetap berdiri. Tapi dengan sigap aku menggendong Alex di punggungku.
            “Biar kuurus.” ujarku berjalan keluar dari Club. Aku ingin membawanya ke dalam mobilnya lagi. Kuharap ia akan bangun di sana. Entah mengapa aku khawatir dengan keadaannya. Ada apa dengannya? Seharusnya ia meminum bir sedikit agar ia tidak benar-benar mabuk. Tapi hebatnya ia masih bisa akting. Mungkin sedikit apresiasi di dalam mobil bersamanya seperti kemarin cukup sepadan dengan apa yang telah ia lakukan.
            Bersenang-senang sedikit dengan Alexis Bledel di dalam mobilnya, siapa sangka? Menyenangkan, kau tahu.


****

            Aku tidak. Aku tidak mencium atau menyentuh Alex di dalam mobilnya. Aku hanya menatapnya dengan tatapan penuh kesadaran diri. Alex masih pingsan dan terduduk lemah di atas kursi mobilnya. Wajahnya yang polos membuatku mengingat Theo. Astaga, aku hampir saja berselingkuh pada Theo. Dan yang kemarin, sudah kubilang itu hanyalah latihan semata. Aku tidak boleh berselingkuh dari Theo. Aku tahu aku mencintainya dan dia tahu aku mencintainya juga. Ini tidak boleh terjadi dan aku tidak boleh mencium Alex di luar persetujuannya.
            Dravin tidak menampakan batang hidungnya. Kemana dia? Sudah tahu aktrisnya sedang pingsan di dalam mobil, ia malah pergi entah kemana. Malam ini memang adalah malam yang benar-benar melelahkan. Setelah aku berusaha untuk mengambil gambar adegan bersama Alexis di toko Clayton tadi siang. Astaga, Alex selalu salah bicara dan mengatakan kata kotor. Dan jika dia mengatakan kata kotor, dia terlihat begitu berani dan seksi. Apalagi saat ia bilang : “Ap-apa kau akan mendekorasi rumahmu ..sialan! Apa-apaan ini?” ia langsung tertawa saat ia lupa apa yang harus ia hafalkan. Dan Gavin juga ikut tertawa. Apalagi saat aku bertanya: “Apa yang kausuka, Ana?” , aku menatap mata Alex lekat-lekat dan sangat dalam. Seperti yang ada di dalam naskah. Tapi Alex malah tertawa dan dia bilang : “Aku suka bercinta dengan Christian Grey!” ia menjerit dan semuanya tertawa. Gavin langsung berteriak “Cut!”. Aku ikut tertawa dengan tingkahnya yang lucu itu.
            Tak sadar, aku tersenyum seperti orang idiot di dalam mobil bersama Alex. Kudengar ia mengerang pelan dan menggeliat. Gila! Dia tampak seksi dalam balutan kaos yang sangat ketat di tubuhnya. Dan apa yang terjadi padaku? Aku tidak pernah tertarik pada perempuan sebelumnya dan aku tidak mau itu terjadi padaku. Ingat Theo! Aku memperingati diri sendiri.
            “Grey,” gumam Alex tiba-tiba.
            “Sudah ‘Cut!’ Alex,” ujarku langsung bergeser, mendekatinya. Saat aku mendekatinya, tiba-tiba ia terjatuh di atas pahaku. Kepalanya tepat berada di atas tongkat besar milikku.
            “Christian Grey. Astaga, apa aku sudah mati?” Alex terus berujar.
            “Belum,” aku malah menjawabnya seperti orang tolol. Kemudian ia tertawa keras dan bangkit dari pahaku, melepaskan kepalanya dari tengah celanaku yang sekarang mengeras. Ada apa dengan wanita ini? Mengapa egfeknya begitu besar bagiku? Aku tidak menyangka aku akan menyukainya.
            “Kau benar-benar lucu, Christian,”
            “Alex, sudah selesai. Kita sudah tidak akting lagi,” ujarku menegurnya. Tapi ia masih tertawa-tawa tak jelas seperti orang mabuk. Dan memang ia sedang mabuk sekarang. Tiba-tiba dari samping, ia berdiri dan sedikit membungkuk di dalam mobil. Masih tertawa, aku melihatnya dengan senyuman. Dia terlihat begitu seksi dengan rambutnya yang acak-acakan itu.
            “Apa? Sudah selesai?” ia terdengar baru terkejut, seakan-akan kata-kataku tadi baru masuk sekarang dan ia mengurainya begitu lama. Kuanggukan kepalaku.
            Tiba-tiba Alex mengangkangiku, selangkangannya sekarang sudah berada di atas celana bagian tengahku. Sialan sekali gadis ini. Aku tidak tahu, tapi aku tidak bisa bersikap professional sebagai artis bersamanya. Ini hubungan yang sedikit berbeda. Tidak seperti di dunia nyata. Rasanya dia ingin terus berada di dunia akting. Seperti sekarang, tangannya sudah melingkar pada leherku.
            “Christian Grey,” bisiknya memelukku, kepalanya sudah berada pada bahuku. Ia memiringkan kepalanya sehingga bibirnya sekarang sudah menyentuh leherku. Anehnya, aku membiarkannya. Ia tampak begitu seksi dan aku tidak merasa risih. Biasanya gadis-gadis yang berusaha untuk menggodaku selalu kujauhi, tapi ini tidak. Dia memiliki daya tarik tersendiri. Meski aku tahu ia membenciku karena aku menciumnya sembarangan beberapa bulan. Tapi neraka! Aku tidak peduli dengan itu sekarang. Gadis ini terlihat begitu menggiurkan, seperti Theo. Seperti Theo, persetan dengan Theo! Aku ingin bercinta dengan aktris pintar ini.
            “Ana,” aku mulai mengikuti permainannya. Ia menggumam dan mencium leherku. Sialan, aku bergetar dan itu membuat pangkal pahaku berdiri. Berereksi. Sial, sial, sial!
            Aku menarik tubuhnya ke belakang namun ia masih berada dalam pangkuanku. Ia tersenyum manis dan matanya sayu. Ia memiringkan kepalanya ke salah satu sisi dan tertawa lagi. Tangannya masih melingkar pada leherku, kemudian ia menggelitiki kepalaku sejenak.
            “Christian,” ia memanggilku lagi. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirkan oleh kepala cantik itu, tapi sudah sejak kemarin ia terlalu mendalami perannya sebagai Ana. Dan dia terlalu terjerumus ke dalamnya dan dampaknya ia berikan padaku. Ia terus memanggilku dengan Grey atau Christian. Itu membuatku mengikutinya memanggilnya sebagai Ana. Aku tak pernah membayangkan Ana dalam buku Fifty Shades, tapi sekarang ia adalah imajinasiku. Tanganku sudah berada pada pinggangnya yang ramping. Ana-ku. Anastasia Grey-ku. Anastasia ..sialan.
            Aku langsung menarik lehernya dan mencium bibirnya. Untung saja kaca mobilnya berwarna hitam jika dilihat dari luar sehingga orang-orang sialan di luar sana tidak melihat apa yang akan kulakukan pada Ana kesayanganku.
            Bibir Ana terbuka dan aku langsung melesak lidahku ke dalam mulutnya yang seksi ini. Kemudian aku memagut lidahnya dengan mulutku. Manis sekali. Ia membalasku tak kalah panas. Decakan-decakan ciuman kami terdengar dan itu membuatku terangsang sekali.
            “Christian,” bisiknya lagi, tangannya sudah mengelus pipiku dan ia mengisap bibir atasku lalu bawah. Kulepaskan ciuman yang begitu panas ini. Gila! Pre-cum sudah membasahi boxer yang kupakai sekarang. Hanya karena sebuah ciuman dari seorang wanita. Biasanya dari lelaki dan ciuman ini adalah ciuman termanis yang pernah kudapatkan.
            Mulutku mulai menjarah pada lehernya, ia langsung memekik. Seksi. Aku menyeringai.

*Alexis Bledel POV*

            Bibir Christian sudah berada pada leherku. Aku mendongak. Aku tahu dia Justin, tapi aku tidak peduli jika ia akan bercinta denganku. Kami mempermalukan diri kami berdua dalam mobil ini tanpa ada rasa hormat terhadap sesama artis. Aku tidak peduli, sialan! Aku membutuhkan pelepasan dari lelaki ini. Christian Grey dalam imajinasiku. Aku mendesah saat lidahnya bermain-main pada leherku, tubuhku bergetar dan semuanya menjuru pada pangkal pahaku. Aku pasti sudah basah sekali.
            “Angkat tanganmu,” suruhnya. Dengan cepat aku melepaskan pakaianku. Ia menyeringai padaku saat tangannya sudah benar-benar menangkup kedua dadaku yang membusung di depan wajahnya. Aku hanya bisa memberikan senyuman genitku pada lelaki ini.
            “Sangat pas dengan tanganku, Ana,” ujarnya kemudian menjilat bra yang kupakai. Bra yang kupakai berwarna pink dan aku suka, “pemilihan warna yang sangat menarik Miss Steele,” ucapnya menarik ke bawah bra yang kupakai hingga dadaku benar-benar terekspos di depannya. Senyumannya semakin mengembang. Oh, kuharap ia tertarik pada diriku. Siapa tahu ia bisa menjadi normal. Aku mengerang! Gila, mulutnya langsung memakan dadaku dengan penuh gairah. Pangkal pahaku merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana. Justin mengeras karena diriku. Tangan Justin mulai meremas dadaku dan membuat kepalaku mendongak dan terus mendesah. Kuraba-raba pintu mobil bagian sopir dan menekan kunci pintu. Astaga, Justin tidak mengunci pintu.
            “Justin,” aku merintih dan menarik kepalanya ke belakang, tapi ia terus meremas dadaku dan menjilat-jilatnya dengan buas.
            “Ya, sebut namaku sayang,” ujarnya mulai menjamah perutku dengan lidahnya. Aku menggeliat dan tiba-tiba tangannya menggendongku lalu ia menaruhku di atas kursi mobil. Kemudian ia menarik retsleting celana jinsku ke bawah dan menarik paksa celana jinsku hingga benar-benar lepas. Ia tidak melepas celana dalamku dan matanya mulai terjatuh pada kaca mobil bagian depan. Dengan cepat ia menarik penutup kaca mobil depanku dan menempelkannya ke ujung sisi mobil yang lain agar kaca-kaca mobil di sini benar-benar tertutup sekarang.
            Sensasi yang ia berikan berhenti begitu saja. Tapi ia membangkitkannya kembali saat jari-jarinya yang panjang itu meraba-raba celana dalamku dari luar dan memang sudah benar-benar basah. Aku mendesah dan mencoba untuk menutup kedua pahaku tapi aku tidak. Aku tidak bisa melakukan itu. Justin menyeringai padaku. Sekarang bukan tentang artis lawan artis. Tapi karakter seseorang dengan karakter seseorang. Gayanya benar-benar seperti Christian Grey yang selalu menggoda Ana saat ingin bercinta. Astaga.
            “Ah, sialan!” aku bergetar begitu saja saat jari Justin mulai masuk ke dalam celana dalamku dan memasukan jarinya ke dalam diriku.
            “Tenang,” ia mulai membungkuk dan menindih tubuhku sedangkan jarinya mulai bergerak-gerak dengan pelan di dalamku, membuatku merintih pelan dan kemudian mengerang saat jari jempol berputar-putar di pusat seksku. Wajahnya berada di depan wajahku, kali ini ia tidak menindih tubuhku. Ia terjatuh di atas lantai mobilku dan tangannya masih terus ia gerakan.
            “Tatap aku,” ujarnya, “aku ingin kau orgasme sambil menatap mataku,” ia memaksa. Rahangnya menegang, menahan gairahnya. Kemudian ia mendengus, aku mengerang! Ia mempercepat gerakan tangannya, membuatku ikut menggoyangkan pinggulku saat ia terus memasukan jarinya ke dalam diriku. Mataku terus terpaku pada matanya yang benar-benar seperti mata Christian Grey. Aku begitu masuk ke dalam matanya yang menghipnotisku.
            “Datanglah untukku,” bisiknya yang membuat perutku menegang dan aku mulai mendapat orgasmeku. Aku menjerit lemah dan terus menatap matanya. Aku begitu terikat dengan tatapannya yang tajam itu. “Ya sayang, seperti itu,” ucapnya kemudian mencium pipiku, sudut bibirku, lalu bibirku. Dengan cepat aku menarik kepalanya dan ia langsung melepaskan jarinya dari dalam diriku, membuatku merintih pelan dan masih terus mencium bibirnya. Kami masih terpagut bibir dan Justin mulai melepaskan celana jins yang ia pakai dari atas tubuhku.
            “Ana,” ia mengerang dalam ciumanku. Aku meremas rambutnya dengan lembut, rambutnya benar-benar lembut di tanganku. Kemudian aku merasakan sesuatu yang licin di bawah sana. Sesuatu yang tumpul.
            “Aku akan melakukan ini, sungguh,” ujarnya menarik kepalanya untuk menjauh dari ciumanku, “Apa kau benar-benar ingin melakukan ini?” tanyanya. Aku menganggukan kepalaku dan menarik kepalanya agar kembali dalam ciumanku, tapi ia menahannya. Tangannya berada di bawah dan ia mulai memasukan dirinya ke dalam diriku.
            “A..angh!” aku melenguh pelan dan ia mulai menyatukan mulutnya dengan mulutku untuk meredamkan eranganku saat ia memaksa masuk ereksinya yang benar-benar penuh ke dalam diriku, “kau sangat ketat. Lebih dari Theo,” ujarnya yang membuatku sedikit jijik. Namun aku melupakan itu saat ia mulai menggerakan tubuhnya dan membuatku mendesah. Ini akan menjadi malam terindah yang pernah kulewati.

****

            “Apa yang kaulakukan dengan Justin tadi malam?” tanya Dravin yang tiba-tiba saja bertanya seperti itu di saat aku sedang dirapikan bajunya oleh stylish. Aku merentangkan tanganku saat stylish mengangkat kedua tanganku. Kugelengkan kepalaku dan menatap Dravin dengan tatapan Apa kau gila? Ada orang lain di sini! Tapi ia mengabaikan tatapanku dan terus menuntut padaku untuk menjelaskan apa yang terjadi padaku tadi malam. Tapi apa pedulinya? Aku hanya bercinta dengan Justin. Dan aku mendapatkan 3 orgasme dari seorang lelaki yang gay. Itu sangat menakjubkan.
            “Apa yang kulakukan? Pertama, aku hanya latihan dengan Justin,”
            “Dengan mobil yang bergoyang-goyang? Astaga, kau pikir aku ini bodoh? Itu dapat merusak reputasimu. Kau tidak lihat paparazzi dari kemarin mengambil gambar kalian?” Dravin tampak marah dan ia melangkah pergi dari tempatnya berdiri. Meninggalkanku dengan kepala yang penuh dengan tanda tanya. Apa yang baru saja ia lakukan? Ia tampak bodoh.
            “Sudah selesai, semoga pengambilan gambar kali ini lebih baik lagi ya Ana,” ujar stylish di depanku dan meninggalkanku. Aku hanya menganggukan kepalaku dan menatap tempat tidur yang berada di depanku sekarang. Sekarang aku harus mengambil gambar bersama Justin di dalam rumah Justin –Christian Grey.
            Tiba-tiba saja Dravin muncul kembali dari balik pintu kamar Christian dan membawa sebuah majalah di tangannya dan ia langsung memaparkan majalah itu di depanku. Anastasia Steele dan Christian Grey Idaman Masyarakat, teriak judul paling depan halaman majalah itu dengan fotoku yang sedang muntah di depan Club. Tapi aku sangat yakin, para pembaca buku E. L James tahu itu peran apa. Tapi kemudian, Dravin membuka halaman-halaman lain dan memperlihatkannya lagi padaku. Artikel. Alexis Bledel tampak menikmati perannya bersama dengan Justin Bieber, Christian Grey, kemarin malam. Ia benar-benar mabuk dengan muntahannya. Christian Grey begitu perhatian dengan Anastasia Steele kesukaan masyarakat. Tapi mengapa mereka tampak begitu mesra di parkiran Club? Apa ada hubungan spesial di antara keduanya? Begitulah sepenggal dari majalah kurang ajar ini. Kemudian aku melihat Justin yang menggendongku di punggungnya dan berusaha untuk membawaku ke mobilku. Lalu semuanya terjadi. Astaga. Aku menutup mulutku.

            “Jadi, jaga jarakmu dengan Bieber itu! Mengerti?!” Dravin mengancam dan aku mengangguk.

3 komentar:

  1. Ren, kok langsung bab 2? bab 1 nya mana? lo ngepost sinopsis terus langsung ke bab 2......

    BalasHapus
  2. Ya ampun, ternyata Bab 1-nya kesimpen di draft. Gue coba update, kaga bisa. Error. Nanti deh dicoba lagi ya. :)

    BalasHapus